.::Selamat Datang di Situs Kami , Semoga Website Kami ini Memberikan Pencerahan kepada Sahabat-Sahabat Mengenai Agama Kita yang Tercinta, Selamat Menikmati Hidangan Kami, dan Mohon Doanya ya Agar wAbsite Kami Tetap Eksis!! Amin::.

Rabu, 11 Maret 2009

IKPM adakan Dialog Peradaban Islam

Sebuah peradaban sangat erat sekali hubungannya dengan perkembangan pemikiran manusia, semakin maju peradaban itu, semakin maju pula pola pemikiran manusia. Lalu bagaimanakah pemikiran dan peradaban yang berkembang pada zaman sekarang ini, yang selalu dikaitkan dengan teknologi serba canggih dan instan?

Berangkat dari analisis itu, IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) Gontor membuat terobosan yang begitu berani, dengan menggelar dialog umum CIOS (Center For Islamic and Occidental Studies) dalam naungan Institute Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor. Berani, karena CIOS ini menggali, mempelajari, dan mengkritisi peradaban Barat tanpa terpengaruh oleh peradaban tersebut. Acara ini dilangsungkan di Aula Shalah Kamil pada hari Rabu, 18 Februari lalu.

Acara yang dijadwalkan akan berlangsung sekitar 15:00 terpaksa harus ditunda, dikarenakan berbagai kendala, sehingga acara pun baru berjalan pukul 17:00. setelah dibuka dan diresmikan oleh Duta Besar Indonesia di Mesir, Bapak Abdurrahman Muhammad Fachir, dimulailah sesi dialog CIOS yang pertama kali diadakan di kalangan Masisir ini.

Materi dipersentasikan oleh dua pakar CIOS. Presentator pertama adalah Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, seorang pakar dan peneliti CIOS dalam bidang pemikiran Islam yang kali ini mengantarkan kajian “Ilmu Kalam dalam Ranah Pemikiran Islam”. Sedangkan pemateri kedua, Dr. Dihyatun Masqon, seorang pakar dan peneliti CIOS dalam bidang peradaban Islam dan Barat, membawakan tema “Peradaban Islam vis a vis Peradaban Barat”. Sutrisno Hadi yang dipercaya sebagai moderator pun membawa dialog umum ini dengan optimal.

Dr. Amal Fathullah Zarkasyi menjelaskan bahwa ilmu Kalam adalah ilmu yang bertujuan untuk menguatkan keyakinan seseorang terhadap Islam dan membantah orang-orang yang ingin menghancurkan Islam. Ilmu Kalam merupakan satu dari empat ilmu pemikiran Islam yang berkembang saat ini, tiga lainnya adalah ilmu Tasawuf, Ushul Fikih, dan Filsafat. Alumnus Universitas Kairo jurusan Darul Ulum ini melanjutkan, “Untuk membangun peradaban Islam yang kokoh lagi kuat, dibutuhkan orang-orang yang dapat menguasai konsep Islam secara menyeluruh. Baik dalam bidang filsafat maupun fikih, untuk kemudian menggali dan mengkritisi filsafat Barat serta mendialogkannya dengan asas pandangan hidup Islam. Jika ditelusuri, Islam adalah agama yang hebat dan agama yang kuat, karena Islam bertumpu kepada nash-nash yang terjaga kesuciannya dan digabungkan dengan akal yang sehat. Sedangakan Barat lebih mengacu materialisme dan rasionalisme murni.

Presentator kedua, Dr. Dihyatun Masqan, menjelaskan betapa pentingnya penguasaan bahasa Arab sebagai sandaran kuat dan pegangan untuk menelusuri khazanah-khazanah Islam yang kuat. Beliau juga menyatakan bahwa Islam dibangun dengan dua tumpuan fundamental; asas spiritual (akhirat) dan asas materialisme (dunia). Kedua prinsip ini saling mengisi dan menyokong. Sedangkan Barat hanyalah bertumpu kepada asas materialisme (dunia). Beliau bersandar kepada sebuah ayat al-Qur`an dalam surat al-Anbiya ayat 107 yang artinya “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”, dari firman Allah tersebut sudah jelaslah bahwa Islam bukan hanya milik Islam saja, namun milik seluruh alam serta penghuninya, sedangkan Barat hanyalah untuk dirinya sendiri.

Acara pun berakhir pada pukul 20:30 dengan tempuk tangan yang membahana dari ratusan peserta yang hadir. Mereka mendapatkan ilmu yang luar biasa pada malam hari ini, dan yakin bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang hebat dan menakjubkan

Selasa, 03 Maret 2009

Di Antara Kebaikan dan Kebatilan

Kehidupan di dunia ini terdiri dari dua pilihan, yaitu kebaikan dan kebatilan. Terkadang kita sulit membedakan antara kebaikan dan kebatilan. Jika kita mau berfikir secara mendalam, maka pada hakikatnya kebaikan dan kebatilan tampak jelas sekali perbedaannya. Akan tetapi jika kita tidak memikirkannya secara teliti dan benar, maka terasa sulit sekali membedakan antara dua hal tersebut. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan hawa nafsu kita yang kadang akan mendorong kita ke jurang kehinaan, karena hawa nafsu lebih condong kepada kebatilan.

Terkadang kita memiliki rasa bersalah atas perbuatan yang kita telah lakukan dan kadang pula kita merasa bahagia sekali dengan apa yang kita telah perbuat. Dari sini kita sudah mengetahui mana perbuatan yang batil dan mana perbuatan baik, yang pada akhirnya jika kita melakukan kebaikan maka kebahagiaan telah menunggu kita, walaupun untuk melakukan perbuatan kebaikan itu sulit dan penuh cobaan. Sedangkan jika kita melakukan perbuatan batil, maka penyesalan yang tiada tara akan selalu menghantui perasaan kita, walaupun untuk melalukannya sangat mudah dan tak pernah ada cobaan serta rintangan.

Perbuatan kebaikan biasanya akan menenangkan hati seseorang yang melakukannya. Ia tidak merasa gundah untuk melaksanakannya dan bahkan kenikmatan yang ia alami akan terasa abadi. Namun, jika perbuatan batil, yang ada hanyalah kesesatan dan keburukan, mulai dari hatinya terus-menerus bergemuruh, selalu gundah disaat melakukannya, hingga terkesan menyesali perbuatannya. Itu dikarenakan kenikmatan yang ia dapati hanyalah sesaat, lalu ia pun akan mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang telah dijanjikan oleh Allah.

Dua pilihan ini erat hubungannya dengan balasan dari Allah, yaitu pahala dan dosa. Jika kita melakukan kebaikan maka pahala Allah yang indah itulah yang akan menemani kita di akhirat kelak, namun jika kita berbuat kebatilan, maka kita pun akan dinanti oleh azab Allah yang begitu kerasnya. Allah tidak akan mengurangi sedikitpun pahala yang kita raih, dan Allah pun tidak akan memperbanyak dosa yang kita lakukan, karena Allah adalah Maha Adil dan tidak ada satupun makhluk di alam ini yang menyamaiNya.

Kebaikan dan kebatilan yang dilakukan oleh manusia sangat kental kaitannya dengan hubungannya kepada Allah dan makhluk Allah yang lainnya. Bagaimana ia menyerahkan diri sepenuhnya sebagai seorang hamba Allah, apakah ia akan melakukan segala apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah, ataukah sebaliknya?. Kemudian bagaimana ia berinterakasi dengan sesama makhluk Allah, karena manusia adalah makhluk sosial, apakah ia akan memperindah dan melestarikan dunia ini, serta menjadikannya sebagai sumber ilmu yang bermanfaat dalam segala hal, lalu semua itu sebagai sarana kesyukuran atas segala nikmatNya, atau malah sebaliknya?.

Allah berfirman dalam masalah kebaikan: “Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (QS. Asy Syuura: 23) dari ayat ini kita akan mengetahui bagaimana Allah menempatkan kebaikan pada posisi yang sangat spesial, karena Allah akan menambahkan kebaikan kepada kebaikan itu, artinya Allah akan melipatgandakan segala perbuatan baik. Bahkan, dalam kebaikan, niat saja sudah dicatat oleh Allah sebagai pahala, apalagi jika disertai melakukannya, maka pahalanya pun akan berlipat-lipat ganda.

Berbeda dengan kebatilan, Allah tidak mencatat niat amalan batil sebelum ia melakukan perbuatan tersebut, namun jika ia melakukan perbuatan tersebut maka niat dan perbuatannya pun akan sama-sama mendapatkan ganjaran yang setimpal. Disinilah keindahan islam, islam sangat menyayangi pemeluknya. Jika islam sudah mencatat niat amalan batil seseorang sebelum ia melakukan perbuatan tersebut, maka niscaya berat sekali bagi pemeluknya. Oleh karena itu kesyukuran yang paling tinggi dan hebat adalah kesyukuran atas nikmat islam yang telah tertanam di dalam diri kita masing-masing.

Oleh karena itu, mulailah dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dan dari saat ini untuk menjadikan segala hal dan tingkah laku sebagai suatu sarana untuk berbuat kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Karena kebenaran adalah perbuatan yang amat indah sedangkan keburukan adalah perbuatan yang tercela.

Rabu, 25 Februari 2009

Cinta Perempuan Paling Cantik

Dia adalah perempuan paling cantik yang pernah saya kenal. Kulitnya putih, wajahnya bersih seperti bayi, kecantikannya lengkap. Dia adalah perempuan terindah yang pernah saya temui. Kecantikan yang tidak pudar, meski usianya mencapai empat puluh lima.

Dua puluh lima tahun yang lalu, perempuan itu mengejutkan semua orang dengan pernikahan yang tiba-tiba. Tidak ada yang menyangka cinta kanak-kanak sang perempuan akan bermuara selamanya, kepada lelaki yang sama.

Pernikahan yang indah. Lelaki yang beruntung. Begitulah barangkali pikiran kebanyakan orang. Sebab dengan kecantikan sang perempuan, akan sulit menemukan lelaki yang benar-benar layak bersanding dengannya. Secara panampilan tentu saja.

Waktu bergulir. Selama itu tidak pernah sekalipun terdengar berita tidak sedap dari pasangan, yang kini sudah dikaruniai dua orang anak. Semua takjub dengan keutuhan rumah tangga keduanya. Pertama, karena dibina ketika mereka masih sangat muda, kedua mengingat kesibukan sang istri yang kini menjadi dosen dan kerap memberi materi seminar. Seringnya berada di depan publik tanpa suami, yang diduga akan menimbulkan jarak diantara suami istri itu, sama sekali tidak terbukti.

Sesekali mereka tampil berdua. Dan siapapun akan mengagumi rumah tangga keduanya. Cukup banyak lelaki yang meski hanya bercanda, sempat mengungkapkan keirian terhadap nasib baik si suami.

“Istri cantik, rumah besar, anak-anak lucu. Komplit!”

Lainnya mengomentari, “Kalau punya istri secantik itu, saya gak bakal kemana-mana. Keluar rumah juga males deh!”

Sebagai perempuan yang hanya melihat semua dari luar, saya pribadi mengagumi kemampuan sang istri memenej rumah tangganya. Mengagumi betapapun kesibukannya menggunung, perempuan itu tak pernah menelantarkan keluarganya. Suami dan anak-anak senantiasa nomor satu.

Kekaguman saya yang lain adalah terhadap kemampuan si perempuan mengurus dirinya. Kecantikannya tidak pernah berkurang, malah semakin bercahaya seiring umur yang bertambah.

Dalam balutan kerudung, dan kemana-mana nyaris tanpa make-up, keindahannya semakin memesona. Saya salut dengan kemampuannya menjaga diri dan menepis gosip tentang rumah tangga mereka.

Ketika kemudian sang suami mulai sakit-sakitan , sang istri dengan cepat mengambil alih tanggung jawab ekonomi keluarga. Mulai dari kebutuhan sahari-hari hingga biaya sekolah anak-anak, bahkan ongkos pengobatan sang suami yang menghabiskan dana dalam jumlah besar.

Adakah kesombongan di wajah cantiknya?

Demi Allah, saya tidak pernah melihat hal itu tebersit sedikit saja di wajahnya yang indah.

Sosok cantik itu tetap santun dan tak banyak bicara. Meladeni suami dan anak-anak seperti hari-hari sebelumnya. Menunaikan tugas-tugasnya di depan publik tanpa keluh kesah sama sekali. Tanpa ungkapan rasa letih, karena sang suami yang lima tahun terakhir ini nyaris tak mampu bekerja untuk keluarga, disebabkan penyakit yang dideritanya.

Batin saya, pastilah lelaki itu demikian baik dan bakti kepada keluarga, hingga istrinya mencintai dan membela keluarga mereka sedemikian rupa.

Tapi kalimat yang suatu hari saya dengar dari famili perempuan terindah itu, mengguncangkan hati saya.

“Kalau saja semua orang tahu, kasihan kakak itu. Suaminya seringkali main perempuan di belakang dia. Dari mulai pertama nikah. Tingkahnya benar-benar bikin makan hati. Keluarga besar sempat menyuruh cerai, tapi sang kakak memang luar biasa sabar!”

Hati saya berdetak.

Allah, jika itu benar. Berkatilah perempuan yang setia itu ya Allah.

Perempuan yang telah menjaga kehormatan suaminya, bahkan di atas begitu banyak luka, yang telah ditorehkan lelaki itu padanya.

Saya pribadi tidak tahu kebenaran berita itu. Sebab saya tak berani menanggapi. Hanya saja saya tiba-tiba mulai menikmati, tak hanya kecantikan dan keindahan luar yang Allah karuniakan kepadanya. Tapi juga sekeping hati yang luar biasa cantiknya.

(Asma Nadia)
di Posting oleh: Ekaristi Pratiwi

Sabtu, 21 Februari 2009

Nasib Mahasiswa Baru Al-Azhar Mulai Cerah

Sudah hampir memasuki empat bulan terakhir ini, Mahasiswa Baru (MABA) belum juga tiba. Entah apa yang terjadi, namun isu dan gosip merebak di Masisir. sebagian menuduh keterlambatan ini terkait dengan tragedi Gazza, yang lain meyakininya sebagai dampak dari kebijakan Lokakarya. Rasa ingin tahu dan penasaran pun menjangkiti seluruh Masisir, "Ada apa di balik keterlambatan MABA tersebut?"

Berangkat dari penasaran Masisir inilah, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir mengadakan “Cangkir Wisma” (Rancang Pikir Wacana dan Isi Hati Mahasiswa) dengan tema “Restruksi dan Solusi Problematika MABA” pada hari Minggu, 15 Februari 2009 lalu di Wisma Nusantara.

Acara ini bertujuan untuk memberikan informasi yang tepat kepada seluruh Masisir tentang keterlambatan MABA. “Acara ini kita orientasikan untuk menguraikan benang kusut dan mencari solusi dari problematika MABA. Sepulang Cangkir Wisma, diharapkan Masisir memilki satu gambaran, tidak ada dugaan aneh-aneh berkaitan dengan keterlambatan MABA”, tutur Firman Hanafi ketika menyampaikan sambutan Ketua Panitia.

Presiden PPMI, Abdullah Yazid Dzf yang menjadi salah satu nara sumber menyampaikan kronologi kasus yang sedang hangat ini. Menurut beliau, ada dua penyebab utama keterlambatan MABA tahun ini; kesalahpahaman Depag dengan Kedubes Mesir di Indonesia, dan kesulitan administrasi Muwafaqat al-Qaumi. Sebenarnya, penyebab yang terakhir ini cukup membuat Depag kelabakan karena hanya kepada pendatang dari Indonesialah surat ini diwajibkan.

Para narasumber dalam Cangkir Wisma dirancang serepresentatif mungkin oleh panitia. Selain dari PPMI yang diwakili oleh Abdullah Yazid, ada juga Cecep Taufiqurrahman, S.Ag. selaku tokoh Masisir, M. Abdullah al-Amiri yang merupakan salah satu mediator MABA, dan Andri Aziz Putra sebagai perwakilan Komite Pelaksana Penerimaan Mahasiswa Baru (KPP-MABA).

Dalam orasinya, Cecep Taufiqurrahman S.Ag., sempat memaparkan bagaimana dulu ia mengalami kejadian serupa. Keberangkatan Cecep ke Mesir kala itu memang sedikit terlambat. Masalahnya pun tidak jauh beda dengan tahun ini; adanya perseteruan Depag-Kedubes. Namun seperti diakui Cecep, kuantitas keterlambatan tahun ini memang jauh lebih tinggi.

Sebenarnya, kegoncangan relasi antara Kedubes Mesir dengan Depag berawal dari perseteruan kecil perihal ujian pemberangkatan. Masing-masing lembaga merasa lebih berhak mengadakan ujian ini. Akhirnya selama beberapa tahun, keduanya memilih untuk mengadakan ujian sendiri-sendiri.

Keberadaan dua ujian yang dilakukan oleh dua lembaga untuk satu keperluan ini acap kali menimbulkan masalah. Selain di masa Cecep, pada tahun 2004 masalah serupa juga terjadi. Berangkat dari berbagai pengalaman ini, KBRI ingin membuat MoU dengan Universitas al-Azhar. MoU yang rencananya akan ditandatangani tahun 2009 ini menyatakan bahwa yang berhak menguji mahasiswa adalah pihak Universitas al-Azhar.

Lain halnya dengan Andri Aziz Putra selaku ketua KPP-MABA. Ia tidak masuk dan membahas masalah MABA secara mendalam. Satu hal yang ia tekankan, bahwa KPP-MABA lepas urusan dengan masalah ini. “Peran dan fungsi KPP-MABA di sini adalah sebagai garis koordinasi MABA dengan mediator, bukan menjadi mediator itu sendiri”, pungkasnya.

Kabar baik disampaikan oleh M. Abdullah al-Amiri sebagai perwakilan mediator MABA. Anggota travel al-Misry ini menjelaskan, “Alhamdulillah 290 visa sudah di tangan para mediator. Beberapa visa lain sebenarnya sudah ada yang diturunkan Kedubes Mesir, namun ada yang masih belum diambil oleh mediator lantaran tidak mengetahui perihal keluarnya visa tersebut. Kita berdoa saja semoga, walaupun terlambat, adik-adik kita tetap memeperoleh kesempatan menuntut ilmu di Negeri Kinanah.”

Cangkir Wisma ditutup oleh Wakil Presiden PPMI, Heri Nuryadi selaku moderator tepat pukl 17.30 setelah sesi tanya jawab usai. Keberadaan puluhan Masisir dari berbagai kalangan yang menghadiri acara ini diharapkan mampu membawa dan menyebarkan kabar seirama tentang MABA. Terlebih berkenaan dengan fakta bahwa masalah yang sudah kesekian kalinya terjadi ini muncul karena perpecahan politik para penguasa, baik dari Indonesia maupun Mesir sendiri.

Rabu, 04 Februari 2009

Kalau Saya Jatuh Cinta Lagi

Santai, santun meski ceplas ceplos. Begitulah kesan saya tentang Pak Haris. Pimpinan sebuah penerbitan di Solo yang saya temui dalam satu kesempatan.


Saya lupa bagaimana awalnya hingga Pak Haris menyinggung poligami. Kebetulan saya tertarik dengan persoalan ini, dan sedang menulis sebuah novel bertema poligami yang penggarapannya sangat menyita energi.


Saya ingin mendalami pikiran laki-laki. Sebenarnya apa yang ada di kepala mereka ketika menikah lagi? Awalnya saya kira seperti lelaki lain, Pak Haris akan mengelak atau memberi jawaban ala kadar. Ternyata…


“Sejujurnya Mbak Asma, hanya ada satu alasan inti kenapa laki-laki menikah lagi.”


Saya dan seorang teman saat itu langsung menyimak baik-baik.


“Dan itu bukan karena menolong, bukan karena kasihan, atau alasan lain. Saya lelaki. Dan kalau saya menikah lagi itu murni karena saya suka dengan gadis itu. Saya jatuh cinta. Titik.”


Wah, jujur sekali. Pikir saya salut.


Dialog yang berawal di rumah makan berlanjut ke dalam mobil. Saya dan teman memang bekerja di penerbitan yang dikelola Pak Haris kemudian mengunjungi penerbitan beliau. Saya diperkenalkan kepada beberapa pegawai dan juga produk-produk mereka.


Di sofa tamu, obrolan berlanjut lagi.


“Sebenarnya Ramadhan kemarin saya tergoda sekali untuk menikah lagi. Sungguh keinginan itu dating begitu dahsyatnya.”


“Padahal Ramadhan ya, Pak?”


Lelaki itu tertawa, mengiyakan.


“Dan saya kira saya hamper saja berpoligami, kalau saja saya tidak bertemu seorang teman. Ikhwan yang memberi satu pertanyaan yang luar biasa benardan akhirnya berhasil mengubah niat saya.”


Dalam hati saya menebak-nebak kemana penjelasan Pak Haris selanjutnya.


“Ikhwan itu berkata begini, Mbak Asma… Jika saya menikah lagi: Pertama, kebahagiaan dengan istri kedua belum tentu… karena tidak ada jaminan untuk itu. Apa yang diluar keliatan bagus, dalamnya belum tentu. Hubungan sebelum pernikahan yang sepertinya indah, belum tentu akan terealisasi indah. Dan sudah banyak kejadian seperti itu.”


Benar sekali, komen saya dalam hati.


“Yang kedua, Pak?”


Lelaki itu terdiam, lalu menatap saya dengan pandangan serius.


“Sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan itu akan abadi.”


Saya melihat Pak Haris menarik napas panjang, sebelum menuntaskan kalimatnya,


“Sekarang, bagaimana saya melakukan sebuah tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil resiko yang kerusakannya pasti dan permanen?”


Dialog di atas terjadi bertahun-tahun lalu. Saya tidak tahu bagaimana kabar Pak Haris sekarang, apakah masih berpegang pada masukan si ikhwan itu atau tidak.


Saya sendiri menerima aturan poligami yang memang ada dalam Qur’an, tetapi cenderung menyetujui pendapat seorang ustadz muda yang mengatakan asal syari’at poligami pada dasarnya adalah monogamy. Artinya dalam keadaan normal, monogamy tetap lebih utama.


Betapa pun, sungguh saya iri terhadap para istri yang sanggup mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Hal yang tentu teramat sulit. Bagaimana bisa berbagi pasangan hati yang selama bertahun-tahun hanya menumpukan perhatian pada kita sebagai satu-satunya istri?


Rasa iri tadi sering ditambah dengan kesedihan yang luar biasa, saat menyadari betapa mudahnya lelaki kemudian melalaikan tanggung jawab bahkan sampai menelantarkan istri pertama dan anak-anaknya.


Untuk kebahagiaan yang belum pasti?


Teringat seorang teman asal Malaysia yang saya temui di Seoul. Lelaki yang dengan lantang menerangkan statusnya, ketika ditanyakan berapa anak yang Allah telah karuniakan kepadanya,


“Dari istri pertama ada tiga. Dari istri kedua belum ada…”


Barangkali karena merasa bertemu dengan muslim di negeri yang sebagian besar penduduknya non muslim itu, hingga dia menjadi terbuka kepada saya. Apalagi setelah saya katakana bahwa saya seorang penulis.


Pernikahan kedua itu tidak pernah direncanakan.


“Ini takdir,” katanya, “Saya tidak pernah sengaja mencari istri lain.”


Saya diam saja. Tidak hendak berdebat soal itu.


Hanya setelah saya tanyakan kerepotan memiliki dua istri ceritanya semakin menarik. Terakhir saya tanyakan apakah dia merasa lebih bahagia setelah menikah lagi?


Mendengar pertanyaan saya, lelaki bertubuh tinggi itu tampak termenung cukup lama sebelum menjawab,


“Yang sudah terjadi, tidak bolehlah kita sesali.”


Menatap senyum getir lelaki itu, seketika ingatan saya terlempar pada kalimat terakhir Pak Haris, beberapa tahun lalu.

(Asma Nadia)
----
di posting oleh: Ekaristi Pratiwi

Selasa, 16 Desember 2008

Pengertian Al-Hijab bagi Wanita

Al-Hijab berasal dari kata hajaban yang artinya menutupi, dengan kata lain al-Hijab adalah benda yang menutupi sesuatu, menurut al-Jarjani dalam kitabnya at-Ta’rifat mendefinisikan al-Hijab adalah setiap sesuatu yang terhalang dari pencarian kita, dalam arti bahasa berarti man’u yaitu mencegah, contohnya: Mencegah diri kita dari penglihatan orang lain.

Dari berbagai pengertian bahasa yang di atas maka kita bisa mengambil sebuah kesimpulan seperti apa yang dikatakan oleh Al-Zabidy dalam kitabnya Taj al-‘Urus bahwa yang dimaksud dengan al-Hijab adalah segala sesuatu yang menghalangi antara kedua belah pihak. Artinya ada sebuah benda yang menghalangi penglihatan kita terhadap orang lain, contohnya, ketika ada dua orang sedang berbicara, tetapi ditengah-tengah mereka terdapat tembok yang besar, sehingga dengan adanya tembok yang besar itu, mengakibatkan kedua orang itu tidak melihat satu sama lain. nah…tembok inilah yang dinamakan al-Hijab.


Sedangkan menurut istilah syara’, al-Hijab adalah suatu tabir yang menutupi semua anggota badan wanita, kecuali wajah dan kedua telapak tangan dari penglihatan orang lain. Dalam agama kita yaitu Islam, hal ini bertujuan untuk menghindari fitnah di antara dua jenis manusia yang berbeda, yaitu pria dan wanita, dikarenakan dari ujung rambut hingga ujung kaki bagi wanita, semua merupakan aurat yang harus ditutupi, kecuali telapak tangan dan wajah tentunya. Sedangkan bagi kaum pria, bertujuan agar bisa Ghadul Bashar atau menundukan pandangan, selain itu juga dapat mencegah dari perbuatan berkhalwat atau berdua-duaan ditempat sepi antara lawan jenis, dan lain sebagainya yang bertujuan untuk mehindari dari berbagai bentuk maksiat yang dibisikan syeitan melalu pendengaran kita. Karena syeitan akan terus menggoda hingga orang yang dituju syeitan itu bisa mengikuti perintah dan langkah syeitan. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah


Dalam al-Qur’an pun disebutkan tentang al-Hijab ini, walaupun satu ayat, tetapi bermakna sangat dalam sekali terhadap definisi al-Hijab itu sendiri, sehingga ayat ini diberi nama dengan “Ayat Hijab”, ayat ini terdapat di surat al-Ahzab ayat 53, yang artinya:


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.


Ayat ini turun berkenaan dengan hak istri-istrinya Nabi Muhammad Saw.. Pada suatu ketika Umar bin Khaththab ra. Bertanya kepada Nabi Muhammad Saw. tentang kewajiban memakai hijab bagi istri-istrinya Nabi Muhammad Saw. ketika bertemu dengan orang lain, maka turunlah ayat tersebut sebagai jawaban. Sedangkan dalam kitab al-Islam wa Qadhaya al-Mar’ah al-Mu’ashirah di katakan bahwa, ayat ini turun berkenaan dengan kekhawatiran Nabi Muhammad Saw. terhadap kecantikan istri beliau. yaitu Zainab binti Jahsy.



Selain itu, tujuan dari ayat di atas terhadap istri-istri Nabi Muhammad Saw. adalah agar mewajibkan kepada mereka (istri-istri Nabi Muhammad Saw.) untuk menutupi semua anggota badan selain wajah dan telapak tangan, dengan memakai tabir ketika berada di antara orang lain yang bukan muhrim.


Sedangkan yang dimaksud dengan al-Hijab pada ayat di atas adalah, tabir pembatas yang menghalangi wanita dari penglihatan orang lain, tetapi bukan sesuatu yang dipakai seperti pakaian, celana maupun jilbab akan tetapi berbentuk sebuah pemisah seperti tembok, hordeng dan lain sebagainya. Mengacu pada ayat di atas bahwa ketika pada zaman Nabi Muhammad Saw., ada orang asing yang datang kepada istri beliau untuk bertemu dikarenakan ada sesuatu urusan, maka Nabi pun mengizinkannya akan tetapi memerintahkan agar istrinya bertemu dibalik tabir. Al-Hijab dalam pengertian sebagai tabir penghalang tidak diwajibkan kepada wanita yang bukan istri Nabi Muhammad Saw., perintah Nabi di atas bukan perintah untuk semua wanita, tetapi khusus bagi istrinya beliau saja.


Oleh karena itu, di zaman sekarang tidak ada satu pun wanita yang melakukan seperti itu, dikarenakan kekhususannya. Coba bayangkan jika itu tidak dikhususkan akan tetapi malah diperintahkan oleh semua wanita, mungkin akan banyak efek dan kendala yang dihadapi oleh wanita, akan tidak adanya wanita karier, akan tidak adanya wanita yang berpolitik dan lain sebagainya. Belum lagi serangan-serangan dari para orientalis yang saat ini belum menemukan satupun kekurangan dalam Islam, mungkin akan mengkritik tentang masalah ini, jika seandainya perintah ini bagi seluruh wanita. Maka pantaslah jika Islam adalah agama yang mudah dan juga fleksibel bagi pemeluknya, sehingga pemeluknya pun tidak akan merasa keberatan ataupun kesusahan ketika menjalankan syariat-syariat Allah, sehingga malulah kita terhadap Allah SWT. yang memberikan kemudahan kepada umat Nabi Muhammad Saw. akan tetapi kita tidak menjalankan syariatnya Allah SWT, Na’udzubillah. Wallahu’alam

Kamis, 11 Desember 2008

Ibu Berikanlah Sebuah Senyuman Untuk Ku

Beliaulah yang membesarkan kita ketika kita masih seberat 4 kilogram, beliaulah yang melahirkan kita ketika kita masih di alam kandungan, beliaulah yang merawat kita ketika kita belum sanggup berbuat apa-apa, beliaulah yang mensekolahkan kita dari Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi sehingga kita menjadi orang yang pintar karenanya, beliaulah yang mendidik kita ketika berjalanpun belum mampu kita lakukan, beliaulah yang menyayangi kita ketika sayangnyalah yang sangat dibutuhkan oleh pertumbuhan kita, beliaulah yang mencintai kita yang cintanya sungguh indah dan dahsyatnya yang akan menentramkan batin dan menenangkan jiwa kita, dan beliaulah-beliaulah sebagainya.

Mungkin perkataan-perkataan di atas yang ingin mencoba menguak kehebatan seoarang ibu, betapa ibu sungguh sangat istimewanya bagi kita, tetapi itu semua sama sekali tidak terlalu muluk-muluk untuk menggambarkan seorang yang cukup fenomenal dalam kehidupan kita, yaitu seorang yang sungguh dengan segala perasaan dan tanggung jawab dalam merawat serta membesarkan kita sehingga kita menjadi orang yang dewasa lagi kuat, bahkan perkataan itu sungguh bagaikan sebutir debu di padang pasir yang sangat luas. Mungkin hanya keterbatasan kata-kata kita lah yang belum mampu menggambarkan kasih sayangnya kepada kita.


Kata Ibu walaupun hanya terdiri dari tiga huruf ini tetapi dapat mengguncangkan dunia, oleh karena itu jika orang yang dapat mendalaminya akan menjadi luluh hatinya, contohnya saja orang yang sebelumnya kejam dan bengis akan mengeluarkan air mata dengan sendirinya, dikarenakan kehebatan kata ibu, dan kefenomenalan kata ibu. Tanyakan lah kepada orang yang sudah tidak mempunyai ibu, tanyakan lah kepada orang yang belum melihat wajah ibu, dan tanyakan lah kepada orang yang tinggal di panti asuhan yang belum sempat sama sekali bertemu ibu, maka mereka akan menjawab dengan serempaknya, “Ohh… Ibu aku rindu padamu”


Ketika mendengarkan jawaban itu hati akan bergetar dan perasaan ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Semua orang akan menangis tanpa terkecuali bila ia benar-benar menyelam di samudra kasih sayang ibu, mulai dari presiden hingga pembantu rumah tangga, mulai dari Ulama hingga santri, mulai dari bayi hingga kakek-kakek, mereka menangis karena belum mampu bahkan tidak akan pernah mampu untuk membalas segala kebaikan yang pernah dilakukan oleh orang yang sangat fenomenal ini, kekhilafan pun menyelimuti diri, dan ingin rasanya sekarang segera beranjak dari tempat duduk untuk segara menemui ibu dan langsung memeluknya dengan penuh perasaan dan terima kasih, lalu akan terikrar di hati ini sebuah janji untuk selalu taat kepadanya.


Adakah kita mengetahui, saat kita kecil sering sekali me-ngompol dan buang air besar sesuka hati ketika ibu sedang makan, adakah ia jijik untuk membersihkannya, adakah ia menunda membersihkannya setelah makan selesai, dan adakah ia mengeluh barang sedikitpun kepada kita sewaktu kita kecil. Tetapi yang terjadi sebuah senyuman yang mengembang dari kedua bibirnya, sebuah hati yang riang melihat anaknya sehat, dan sebuah perasaan yang sungguh indah sekali hingga sulit sekali untuk melukiskan bagaimana hebatnya cintanya kepada kita, bahkan pelukis yang paling hebat di dunia pun tidak bisa melukiskan kehebatan seorang ibu walaupun setetes tinta.


Namun sayangnya, apa yang terjadi ketika anak itu besar dan sudah bisa mandiri, ia lebih mementingkan diri sendiri, tanpa melihat ibu yang sudah tua termakan umur. Ia lebih memilih untuk bersenang-senang, ketika ibu terserang penyakit. Dan bahkan konyol-nya ia lebih memikirkan nasibnya yang serba mewah ketimbang barang sejenak saja menengok ibu yang sedang terbaring di rumah sakit. Apakah ini balasan anak yang shalih dan shalihah?, apakah ini balasan anak yang baik dan anak yang berbakti?, dan apakah ini balasan anak jutawan dan anak milyader?, tidak sama sekali, anak seperti ini harusnya sudah dipecat dari kantor dunia, anak yang seperti ini seharusnya tidak dikeluarkan dari rahim ibu, dan anak seperti ini sudah seharusnya tidak mengenal ibu.


Apakah kita mengetahui, bahwa kebahagiaan ibu terhadap anaknya adalah ketika melihat anaknya sukses dalam berbagai bidang tetapi tidak melupakannya. Ketika melihat anaknya se-abrek prestasi yang didapatkan tetapi ia mengucapakan terima kasih kepda ibu. Dan ketika melihat anaknya bahagia dikehidupan barunya tetapi ia tidak meninggalkan ibunya. Seoarang ibu tidak mengharapkan secuil harta anaknya sedikitpun, seoarang ibu tidak mengharapkan apa-apa dari anaknya, lalu sebagai anaknya apakah ia berat menanggung kebahagiaan-kebahagiaan ibu yang di atas? dan sebagai anaknya apakah ia berat melaksanakan demi kebahagiaan ibu? Wahai manusia bandingkanlah dengan apa yang telah ibu lakukan untuk kita, maka akan terkuak lah fenomena bahwa kita termasuk orang-orang yang durhaka, Na’udzubillah.


Sudah seharusnyalah kita berbakti dan mengabdi kepada ibu yang telah membesarkan kita dengan penuh rasa semangat, dengan penuh keikhlasan dan penuh dengan kasih sayang. Jangan sekali-kali muncul dalam benak untuk mengeluh dan jangan sekali-kali terucap di pikiran kita kata-kata repot. Berbakti dengan tidak berbuat durhaka dengannya, menjauhkan apa yang tidak baik kita berikan kepada ibu, dan membuktikan kepada ibu bahwa kita adalah anak yang shalih, rajin dan juga berprestasi, sehingga simpanlah ungkapan ini di dalam qalbu setiap jiwa “IBU BERIKANLAH SEBUAH SENYUMAN UNTUKKU” Wallahu ‘Alam

Rabu, 26 November 2008

Berdialog Dengan Hatiku di Republik Jiwa

Wahai hatiku yang selalu gundah gulana, janganlah kau berlama-lama dalam kegundahan, aku tak kuat menahan kegundahanku ini. Aku ingin hatiku tenang untuk dapat menyelam ke samudra keagungan Allah SWT.. Namun kau selalu saja membuat kegundahan dijiwaku. Apakah kau mengetahui bagaimana keinginanku untuk masa depan yang bermula dari usahaku sekarang ini. Jika kau terus menaruh kegundahan dalam hatiku, maka aku akan celaka. Aku akan terperosok ke lubang yang selama ini aku berusaha untuk menghindarinya. Ah…percuma aku berbicara denganmu, yang ku butuhkan adalah kebangkitan bukan keterpurukan akibat kegundahanku ini.

Wahai hatiku, bekerjasamalah dengan otakku, agar kau tidak hanya mengedepankan perasaan saja tetapi juga mengedepankan akal pikiran. Jadilah dua sejoli dengan otakku agar kau merasa tenang ditemani oleh makhluk yang berbeda karakter denganmu itu. Jadilah kawan akrab yang akan menguntungkan bagi seluruh tubuhku. Berjalanlah bersama-sama, jangan ada yang saling mendahului dan jangan pula ada yang saling membelakangi. Bekerjasamalah layaknya klub sepakbola yang selalu memenangkan seluruh pertandingan yang diikutinya.


Wahai hatiku, jadikanlah perasaanmu ini perasaan yang lembut lagi indah. Jangan kau sekali-kali mengungkapkan kemarahanmu. Dan jangan pula sekali-kali kau berburuk sangka kepada orang yang baik-baik. Apakah kau takut akan kehilangan kebahagiaan, apakah kau takut akan kehilangan kenikmatan, dan apakah kau takut akan kehilangan keindahan. Janganlah kau takut, karena ada yang Maha Dekat, yaitu Allah SWT., mintalah kepada Beliau, insya Allah akan tentramlah jiwaku ini.


Wahai hatiku yang kukagumi. Marilah membangun jiwaku seperti sebuah pemerintahan. Kau adalah wakil presidennya dan otak adalah presidennya. Kau mempunyai kehendak maka tanyakanlah dulu dengan presidenmu apakah itu baik atau tidak. Jika baik maka suruhlah mentri-mentri yang terkait dengan keinginanmu itu. Namun jika buruk maka tahanlah, janganlah kau paksakan diri, jika kau paksakan diri akan mengakibatkan bencana bagimu, bagiku dan bagi kita semua. Jadikanlah tubuh ku sebagai Negara yang tentram dan meyejukkan. Jangan kau jadikan tubuhku menjadi tubuh yang penuh dengan api dan kebisingan hidup.


Wahai hatiku, apakah kau tidak tau betapa pentingnya kau di anggota tubuhku. Walau pun kau kecil, namun kau adalah segalanya. Ketika aku beribadah kepada Allah SWT. dengan hati yang terpaksa maka ibadahku pun kacau. Tetapi jika aku beribadah kepada Allah SWT. dengan ikhlas maka ibadahku pun penuh dengan makna dan keindahan. Ikhlaskanlah segala hal tentang kebaikan, dan jangan kau ikhlaskan segala hal tentang keburukan. Keburukan yang nyata-nyata akan menerpa mu dan menerpa seluruh personil tubuhku, yang lambat laun akan mengeras seperti batu hingga sulit sekali diluluhkan dengan berbagai siraman dan rayuan rohani.


Wahai hatiku, mari bersama-sama dengan ku untuk selalu mengagungkan asma Allah SWT. walaupun mentri bicara yaitu mulut masih enggan untuk melafazkan asma Allah SWT.. Kau harus nya memberi contoh kepada mulut untuk selalu berzikir setiap waktu dan setiap saat. Jangan kau hanya berkehendak saja namun kau tidak menjalaninya sama sekali. Dakwah yang paling mujarab adalah dakwah dengan perbuatan, uswatun hasanah, bukan dakwah yang hanya keluar dari kehendak saja namun tidak kau kerjakan, sungguh naïf sekali wahai hati.


Wahai hatiku olahlah negrimu ini menjadi negri yang baldatun tayyibatun wa robbun gofur. Yang ketika kau mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT. kau bersyukur kepadanya dan ketika kau mendapatkan cobaan dari Allah SWT. kau bersabar dengan ujian itu. Kenikmatan yang tak pernah lelah terputus yang diberikan oleh Allah SWT., yang kadang kau ingkari kenikmatannya. Ujian yang kadang melanda didatangkan khusus kepada Negara kita, yang kadang kau su’udzon kepada Allah SWT. tentang ujian ini, sehingga kau lelah dan lelah untuk selalu merasa dan mengatur.


Yuk!! Bersama-sama dalam kehidupan yang lebih indah, kehidupan penuh makna dengan hati yang bercahaya dan beraura. Semoga engkau selalu bahagia di dalam jiwaku yang terkadang rapuh dan terkadang kuat ini.

Senin, 24 November 2008

Koruptor Layakkah Dihukum Mati?

Koruptor adalah sebuah gelar yang sangat buruk disandang oleh manusia yang mempunyai akal dan hati nurani. Koruptor adalah gelar pencuri tingkat tinggi yang dilakukan oleh kalangan atas untuk mengkayakan diri sendiri dan mengacuhkan penderitaan orang lain. Koruptor adalah seburuk-buruknya tindakan kejahatan yang selama ini jarang sekali ditindak tegas oleh penegak hukum di Indonesia. Koruptor sudah merajalela kemana-mana, mulai dari pejabat pemerintahan, dewan, hakim, polisi hingga ketua RT dan RW di pedesaan. Buktinya banyak pemberitaan mengenai pelaku korupsi diberbagai media masa, baik elektronik maupun tulisan.


Mungkin ada benarnya jika uang adalah segala-galanya, pernyataan ini hanyalah dikhususkan kepada peraturan Negara kita. Ini terbukti makin banyaknya koruptor yang bertebaran dimana-mana. Seharusnya jika hukum dan peraturan Negara Indonesia adalah peraturan yang tegas dan setimpal dengan perbuatannya, sudah seharusnyalah koruptor mati kutu, tidak ada lagi yang melanggang enaknya, sehingga ia menikmati hasil kejahatannya. Namun karena peraturan yang tidak tegaslah yang menjadikan uang dapat berbicara, karena uang kebenaran berubah menjadi kejahatan, dan bahkan dengan uang pula kejahatan berubah wujud menjadi kebaikan. Inilah kelemahan hukum dan peraturan Indonesia yang sangat tidak tegas dan bahkan terkesan lemah tanpa darah. Jadi jangan salahkan kucing yang mengandung jika koruptor dimana-mana.


Sudah saatnyalah Indonesia sebagai Negara teladan. Kita sudah lelah mendengar ditelinga kita bahwa Indonesia adalah Negara yang tertinggi dalam angka korupsinya. Apakah Indonesia harus terus terpuruk, kata Bung Roma dalam syair lagunya “Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin”, inilah yang sudah seharusnya dipikirkan oleh semua element masyarakat, bukan hanya pemerintah saja tetapi setiap individu manusia, agar mengetahui bagaimana efek korupsi yang akan mengakibatkan bencana bagi seluruh masyarakat Indonesia.


Sebuah wacana muncul untuk mematikan angka-angka korupsi yang semakin hari semakin membludak. Wacana ini muncul akibat kekesalan dan kegundahan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dari pengasingan diri hingga hukuman mati. Akhir-akhir ini ada sebuah wacana bahwa hukuman yang paling tepat untuk pelaku korupsi adalah hukuman mati seperti yang dilakukan oleh pemerintah China, untuk memusnahkan korupsi yang terus bermunculan di Negara itu. Hukuman mati terasa tepat karena sesuai dengan apa yang diperbuatnya, maling tingkat tinggi dan akan berefek kepada rakyat Indonesia yang semakin menderita.


Coba kita bayangkan, seorang yang mencuri ayam bisa hancur wajahnya karena dipukuli oleh masyarakat, namun pejabat yang terkenal dengan kebijakannya mencuri uang rakyat hingga bermilyar-milyar tetapi hanya divonis dua hingga tiga tahun penjara, sungguh naïf perbedaan ini, belum lagi penjara yang dipakai oleh pejabat yang korupsi penjara yang kelasnya VVIP. Masya Allah, hingga seperti ini kah ketidakadilan hukum manusia, dan sesungguhnya hukum Mu lah yang paling adil diseluruh alam semesta ini.


Dalam hukum islam, hukuman korupsi dapat dibagi dalam tiga bagian. yang pertama, jika korupsinya itu dalam jumlah yang besar hingga bermilyar-milyaran rupiah dan berefek kepada rusaknya kestabilitasan Negara serta hilangnya kesempatan hidup bagi sebagian rakyat maka tindakan korupsi seperti ini layak diberi hukuman mati. Yang kedua, jika korupsinya dalam jumlah yang sedang misalnya ratusan juta rupiah maka hukumannya adalah potong tangan, sedangkan yang terakhir jika korupsinya dalam jumlah yang sangat kecil misalnya jutaan rupiah, maka hukumannya dipenjarakan hingga ia benar-benar tobat dan menyesali apa yang ia perbuat.


Oleh karena itu Website Nur Aurora mengadakan jajak pendapat tentang masalah hukuman mati bagi pelaku korupsi. Selama satu bulan kami mengadakan polling tersebut dan hasilnya sangat fantastic, sekitar 64 % setuju dengan hukuman mati bagi pelaku korupsi, hanya 14 % yang tidak setuju dengan hukuman mati bagi para koruptor dan selebihnya sekitar 22 % memilih abstain.


Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia sudah muak dengan korupsi, oleh karena itu tidaklah mustahil jika lebih dari 50 % pengunjung website Nur Aurora menyatakan setuju dengan tindakan hukuman mati para koruptor ini. Walaupun jajak pendapat ini tidaklah terlalu ilmiah namun sudah bisa dipahami bahwa sebagian masyarakat Indonesia menginginkan yang terbaik bagi negaranya yaitu tindakan tegas bagi pemerintah untuk menciutkan tindakan korupsi dinegara kita yang tercinta ini.


Ini adalah beberapa komentar dari pengunjung website Nur Aurora yang menyumbangkan suaranya demi kemajuan bangsa:

From chitz_zane on November 12, 2008 at 9:37 pm.

Top of Form

Bottom of Form

setuju banget...!!!
hukum n penegak hukumnya mesti tegas..
masa korup milyaran mpe triliyunan cuma berapa taon penjara..
gimana gak makin banyak yang korup!!!
hukumannya gak nyeremin..

emang seh....
rejeki ma dah ada yang atur..
tp paling gak,jangan serakah amat..
bener tuh kata mas eko patrio..
yang kaya makin kaya...
yang miskin makin miskin....

From _dHebry_ on November 3, 2008 at 8:05 am.

Top of Form

Bottom of Form

waT qUwh c... yg nMa'a k0ruptor. nTu maH dah mendaRah daGing di tiap diRi mNsia. ,,sBgai c0ntoh'a.kLo dpkir sCra logika, bnrE dri qTa kciL dah bLjr korpSi low...!!!coba temend2 pkir ja.. skRg cmua t'gnTng dri indvdu Ntu ndiri

From Hamba Allah on September 8, 2008 at 12:05 am.

Top of Form

Bottom of Form

biar tidak ada lagi yang korupsi, karena merugikan raykat dan negara...........

From cha_cha on August 19, 2008 at 11:11 pm.

Top of Form

Bottom of Form

koruptor mang bwt negara qt rugi bgt,,selain itu mrk jg byk menyengsarakan masyarakat dgn mengambil sesuatu yg bkn hak mrk,namun ada baik na qt jg sdkit memberi hati untuk mereka toh semua orang pernah khilaf kan????
tpi tu jga bkn brarti sya stuju dgn ap yg merka lakukan,semua kembali kepada qt masing2 untuk berpndapt dan menilai na...

Senin, 17 November 2008

UU APP Memusnahkan Virus Pornografi dan Meluluhlantakan Hama Pornoaksi

Indonesia sedang gusar, begitulah ungkapan yang dapat menggambarkan bagaimana perwajahan Negara kita ini, Negara yang konon disandang sebagai Negara yang kaya akan hasil alamnya ini, sampai-sampai Belanda dan Jepang tergila-gila terhadap Indonesia pada perang dunia ke-II, sehingga kedua negara itu mau menjajah Indonesia dengan habis-habisan. Namun, tiba-tiba seiring perkembangan zaman dan berjalannya waktu, Indonesia mulai surut kehebatannya. Bagaimana tidak surut, jika eksploitasi membabi buta dimana-mana yang dilakukan oleh investor yang tidak bertanggung jawab, baik lokal maupun asing, inilah penyebab utama yang menjadikan sumber alam kita kian mengkhawatirkan dan terpuruk. Bukan hanya eksploitasi di sektor alam saja terjadi, tetapi sudah merambah kepada pengekspolitasian akhlak dan moral.

Inilah model penjajahan zaman modern, penjajahan yang lebih kejam dari penjajahan zaman dahulu. Jika zaman dahulu musuhnya nampak terlihat dengan jelas, tetapi penjajahan zaman sekarang tidak tampak jelas sama sekali, bahkan tidak disadari bagi sebagian orang, ia menanggap hanyalah kenikmatan dan kesenangan saja, padahal jika diteliti disinilah letak jahatnya penjajahan zaman sekarang. Penjajahan zaman sekarang bermuka senyum namun pada akhirnya menyesatkan dan menghancurkan, yang lebih hebatnya lagi adalah menghancurkan dengan cara sedikit demi sedikit, agar sakit dirasa.


Diakui atau tidak, Negara kita krisis dimana-mana, mulai dalam arena panggung politik, hingga ajang olah raga. Mungkin kita mulai bosan dengan berita-berita yang tidak menyenangkan dihati, ingin rasanya terdapat berita yang menggugah hati atau bahkan membuat kita bangga dengan keindonesiaan kita. Namun puji syukur kepada yang Kuasa karena akhir-akhir ini ada pengumuman yang membuat hati kita lega dari pemerintah Indonesia. Pengumuman itu bagaikan seteguk air di padang pasir pada saat matahari menyengat kulit.


Pengumuman itu adalah pengesahan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU AAP), konsep yang semulanya bermula tiga tahun lalu ini menjadi isu besar yang mencuat di Negara kita. Ada yang sangat setuju dan tersenyum dengan pengesahan RUU AAP, ada pula yang diam seribu bahasa tanpa berkomentar satu huruf pun, atau bahkan ada yang berkoar-koar dan mewek dengan pengesahan ini, tanda tidak setuju.


Kita patut bersyukur atas pengesahan RUU APP ini, bagaimana tidak, jika tujuannya adalah baik dan demi kemashlahatan bersama. Dan sudah seharusnya lah semua komponen masyarakat Indonesia mendukung pengesahan RUU APP, karena ini untuk mencegah pengeksplotasian moral dan akhlak generasi bangsa yang akan berefek kepada masa depan Negara Indonesia. Coba kita renungkan sejenak pergaulan remaja di sekitar kita pada sekarang ini, adakah kekaguman atas akhlak remaja Indonesia saat ini? Atau kah malah hanya kekecewaan yang timbul?, jika kekecewaan yang timbul maka kita sebagai warga yang mencintai Indonesia maka harus merubah dan membenarkan pergaulan remaja yang condong dengan gaya pergaulan bebas dengan embel-embel free seks.


Pengesahan RUU APP bukanlah awal pengubahan hukum indonesia dari UUD ke syariat Islam, dan bukan pula untuk mengislamisasikan indonesia, tapi pengesahan RUU APP ini awal kebangkitan indonesia, bangkit dari keterpurukan moral dan bangkit dari lembah hitam yang kelam bagi generasi penerus bangsa yang tersesat dengan pornoaksi dan pornografi. Ingatlah oleh kita semua, peraturan bukanlah untuk mengekang manusia, dan bukan pula untuk menutup karya manusia, tetapi peraturan ini adalah untuk merubah akhlak yang mesum kepada akhlak yang mulia. Mungkin ada sebagian orang tanpa ada peraturan bisa tetap dijalan kebenaran, namun ada pula sebagian orang akan bertindak dijalan kebenaran jika ada sebuah peraturan yang berlaku. Oleh karena itulah RUU APP ini tidak merugikan orang lain, tetapi malah akan menjadi pelindung bagi orang yang mencari kebenaran.


Pornografi sudah menjamur di Indonesia, bahkan penjualan VCD dan DVD aurat ini seperti menjual kacang di pasaran, dengan harga miring dan dimana pun ada. Sehingga tidak mustahil jika pornografi bisa diakses oleh semua kalangan, bahkan anak Sekolah Dasar pun bisa menjadi korbannya. Belum lagi di Internet yang begitu banyak situs-situs maksiat yang akan menenggelamkan generasi bangsa dengan fantasi-fantasi yang mesum, dan sudah pasti akan hancurlah moral bangsa ini, diakibatkan oleh penjajahan modern yang menjadi-jadi dengan satu umpan yang ampuh yaitu pornografi.


Belum habis pornografi dibabat, tetapi sudah tumbuh pornoaksi. Pornoaksi ini diklaim oleh sebagian orang adalah seni. Apakah benar pornoaksi itu adalah seni, jika berefek hancurnya generasi bangsa?. Apakah betul pornoaksi seni, jika menimbulkan kemaksiatan yang dahsyat?. Dan apakah tepat bahwa pornoaksi adalah seni, jika merugikan orang lain?. Jawablah dihati anda dengan jujur pertanyaan-pertanyaan itu semua.


Seni adalah ciptaan Allah yang istimewa, yang membuat orang tertegun dan merasa takjub. Allah menciptakan seni semata-mata agar hambanya mau beribadah kepada Allah. Seharusnya orang yang menggeluti bidang seni bisa bersyukur lebih dalam lagi, karena ia akan menemukan kebasaran dan kehebatan ciptaan Allah. Contohnya saja seorang pelukis, ia melukis ciptaan Allah yang Maha Dahsyat, semakin ia tenggelam dilukisannya itu, maka ia semakin takjub kepada penciptanya, maka ia akan bergumam, "Maha Besar Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan begitu agungnya".


Jadi, seni itu bukan membuat orang jauh dari Allah, tapi seni itu adalah sarana yang baik untuk semakin dekat dengan Allah dan akan menjadikan kita sebagai golongan orang-orang yang bersyukur. Maka jika begitu apakah kita berani mengatakan, "Pornografi dan Pornoaksi adalah Seni", hanya orang yang bodoh dan hatinya hitamlah yang berkata seperti itu. Yuk!! Kita tuntaskan aksi pornografi dan pornoaksi di negara kita ini melalui UU APP, semoga Negara kita menjadi Negara yang damai dan sejahtera, amin.

--------------

Oleh: Ibnu Saduki al-Bekasi (Adi Nurseha)

Template by - Abdul Munir - 2008