.::Selamat Datang di Situs Kami , Semoga Website Kami ini Memberikan Pencerahan kepada Sahabat-Sahabat Mengenai Agama Kita yang Tercinta, Selamat Menikmati Hidangan Kami, dan Mohon Doanya ya Agar wAbsite Kami Tetap Eksis!! Amin::.
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2009

Di Antara Kebaikan dan Kebatilan

Kehidupan di dunia ini terdiri dari dua pilihan, yaitu kebaikan dan kebatilan. Terkadang kita sulit membedakan antara kebaikan dan kebatilan. Jika kita mau berfikir secara mendalam, maka pada hakikatnya kebaikan dan kebatilan tampak jelas sekali perbedaannya. Akan tetapi jika kita tidak memikirkannya secara teliti dan benar, maka terasa sulit sekali membedakan antara dua hal tersebut. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan hawa nafsu kita yang kadang akan mendorong kita ke jurang kehinaan, karena hawa nafsu lebih condong kepada kebatilan.

Terkadang kita memiliki rasa bersalah atas perbuatan yang kita telah lakukan dan kadang pula kita merasa bahagia sekali dengan apa yang kita telah perbuat. Dari sini kita sudah mengetahui mana perbuatan yang batil dan mana perbuatan baik, yang pada akhirnya jika kita melakukan kebaikan maka kebahagiaan telah menunggu kita, walaupun untuk melakukan perbuatan kebaikan itu sulit dan penuh cobaan. Sedangkan jika kita melakukan perbuatan batil, maka penyesalan yang tiada tara akan selalu menghantui perasaan kita, walaupun untuk melalukannya sangat mudah dan tak pernah ada cobaan serta rintangan.

Perbuatan kebaikan biasanya akan menenangkan hati seseorang yang melakukannya. Ia tidak merasa gundah untuk melaksanakannya dan bahkan kenikmatan yang ia alami akan terasa abadi. Namun, jika perbuatan batil, yang ada hanyalah kesesatan dan keburukan, mulai dari hatinya terus-menerus bergemuruh, selalu gundah disaat melakukannya, hingga terkesan menyesali perbuatannya. Itu dikarenakan kenikmatan yang ia dapati hanyalah sesaat, lalu ia pun akan mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang telah dijanjikan oleh Allah.

Dua pilihan ini erat hubungannya dengan balasan dari Allah, yaitu pahala dan dosa. Jika kita melakukan kebaikan maka pahala Allah yang indah itulah yang akan menemani kita di akhirat kelak, namun jika kita berbuat kebatilan, maka kita pun akan dinanti oleh azab Allah yang begitu kerasnya. Allah tidak akan mengurangi sedikitpun pahala yang kita raih, dan Allah pun tidak akan memperbanyak dosa yang kita lakukan, karena Allah adalah Maha Adil dan tidak ada satupun makhluk di alam ini yang menyamaiNya.

Kebaikan dan kebatilan yang dilakukan oleh manusia sangat kental kaitannya dengan hubungannya kepada Allah dan makhluk Allah yang lainnya. Bagaimana ia menyerahkan diri sepenuhnya sebagai seorang hamba Allah, apakah ia akan melakukan segala apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah, ataukah sebaliknya?. Kemudian bagaimana ia berinterakasi dengan sesama makhluk Allah, karena manusia adalah makhluk sosial, apakah ia akan memperindah dan melestarikan dunia ini, serta menjadikannya sebagai sumber ilmu yang bermanfaat dalam segala hal, lalu semua itu sebagai sarana kesyukuran atas segala nikmatNya, atau malah sebaliknya?.

Allah berfirman dalam masalah kebaikan: “Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (QS. Asy Syuura: 23) dari ayat ini kita akan mengetahui bagaimana Allah menempatkan kebaikan pada posisi yang sangat spesial, karena Allah akan menambahkan kebaikan kepada kebaikan itu, artinya Allah akan melipatgandakan segala perbuatan baik. Bahkan, dalam kebaikan, niat saja sudah dicatat oleh Allah sebagai pahala, apalagi jika disertai melakukannya, maka pahalanya pun akan berlipat-lipat ganda.

Berbeda dengan kebatilan, Allah tidak mencatat niat amalan batil sebelum ia melakukan perbuatan tersebut, namun jika ia melakukan perbuatan tersebut maka niat dan perbuatannya pun akan sama-sama mendapatkan ganjaran yang setimpal. Disinilah keindahan islam, islam sangat menyayangi pemeluknya. Jika islam sudah mencatat niat amalan batil seseorang sebelum ia melakukan perbuatan tersebut, maka niscaya berat sekali bagi pemeluknya. Oleh karena itu kesyukuran yang paling tinggi dan hebat adalah kesyukuran atas nikmat islam yang telah tertanam di dalam diri kita masing-masing.

Oleh karena itu, mulailah dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dan dari saat ini untuk menjadikan segala hal dan tingkah laku sebagai suatu sarana untuk berbuat kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Karena kebenaran adalah perbuatan yang amat indah sedangkan keburukan adalah perbuatan yang tercela.

Rabu, 26 November 2008

Berdialog Dengan Hatiku di Republik Jiwa

Wahai hatiku yang selalu gundah gulana, janganlah kau berlama-lama dalam kegundahan, aku tak kuat menahan kegundahanku ini. Aku ingin hatiku tenang untuk dapat menyelam ke samudra keagungan Allah SWT.. Namun kau selalu saja membuat kegundahan dijiwaku. Apakah kau mengetahui bagaimana keinginanku untuk masa depan yang bermula dari usahaku sekarang ini. Jika kau terus menaruh kegundahan dalam hatiku, maka aku akan celaka. Aku akan terperosok ke lubang yang selama ini aku berusaha untuk menghindarinya. Ah…percuma aku berbicara denganmu, yang ku butuhkan adalah kebangkitan bukan keterpurukan akibat kegundahanku ini.

Wahai hatiku, bekerjasamalah dengan otakku, agar kau tidak hanya mengedepankan perasaan saja tetapi juga mengedepankan akal pikiran. Jadilah dua sejoli dengan otakku agar kau merasa tenang ditemani oleh makhluk yang berbeda karakter denganmu itu. Jadilah kawan akrab yang akan menguntungkan bagi seluruh tubuhku. Berjalanlah bersama-sama, jangan ada yang saling mendahului dan jangan pula ada yang saling membelakangi. Bekerjasamalah layaknya klub sepakbola yang selalu memenangkan seluruh pertandingan yang diikutinya.


Wahai hatiku, jadikanlah perasaanmu ini perasaan yang lembut lagi indah. Jangan kau sekali-kali mengungkapkan kemarahanmu. Dan jangan pula sekali-kali kau berburuk sangka kepada orang yang baik-baik. Apakah kau takut akan kehilangan kebahagiaan, apakah kau takut akan kehilangan kenikmatan, dan apakah kau takut akan kehilangan keindahan. Janganlah kau takut, karena ada yang Maha Dekat, yaitu Allah SWT., mintalah kepada Beliau, insya Allah akan tentramlah jiwaku ini.


Wahai hatiku yang kukagumi. Marilah membangun jiwaku seperti sebuah pemerintahan. Kau adalah wakil presidennya dan otak adalah presidennya. Kau mempunyai kehendak maka tanyakanlah dulu dengan presidenmu apakah itu baik atau tidak. Jika baik maka suruhlah mentri-mentri yang terkait dengan keinginanmu itu. Namun jika buruk maka tahanlah, janganlah kau paksakan diri, jika kau paksakan diri akan mengakibatkan bencana bagimu, bagiku dan bagi kita semua. Jadikanlah tubuh ku sebagai Negara yang tentram dan meyejukkan. Jangan kau jadikan tubuhku menjadi tubuh yang penuh dengan api dan kebisingan hidup.


Wahai hatiku, apakah kau tidak tau betapa pentingnya kau di anggota tubuhku. Walau pun kau kecil, namun kau adalah segalanya. Ketika aku beribadah kepada Allah SWT. dengan hati yang terpaksa maka ibadahku pun kacau. Tetapi jika aku beribadah kepada Allah SWT. dengan ikhlas maka ibadahku pun penuh dengan makna dan keindahan. Ikhlaskanlah segala hal tentang kebaikan, dan jangan kau ikhlaskan segala hal tentang keburukan. Keburukan yang nyata-nyata akan menerpa mu dan menerpa seluruh personil tubuhku, yang lambat laun akan mengeras seperti batu hingga sulit sekali diluluhkan dengan berbagai siraman dan rayuan rohani.


Wahai hatiku, mari bersama-sama dengan ku untuk selalu mengagungkan asma Allah SWT. walaupun mentri bicara yaitu mulut masih enggan untuk melafazkan asma Allah SWT.. Kau harus nya memberi contoh kepada mulut untuk selalu berzikir setiap waktu dan setiap saat. Jangan kau hanya berkehendak saja namun kau tidak menjalaninya sama sekali. Dakwah yang paling mujarab adalah dakwah dengan perbuatan, uswatun hasanah, bukan dakwah yang hanya keluar dari kehendak saja namun tidak kau kerjakan, sungguh naïf sekali wahai hati.


Wahai hatiku olahlah negrimu ini menjadi negri yang baldatun tayyibatun wa robbun gofur. Yang ketika kau mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT. kau bersyukur kepadanya dan ketika kau mendapatkan cobaan dari Allah SWT. kau bersabar dengan ujian itu. Kenikmatan yang tak pernah lelah terputus yang diberikan oleh Allah SWT., yang kadang kau ingkari kenikmatannya. Ujian yang kadang melanda didatangkan khusus kepada Negara kita, yang kadang kau su’udzon kepada Allah SWT. tentang ujian ini, sehingga kau lelah dan lelah untuk selalu merasa dan mengatur.


Yuk!! Bersama-sama dalam kehidupan yang lebih indah, kehidupan penuh makna dengan hati yang bercahaya dan beraura. Semoga engkau selalu bahagia di dalam jiwaku yang terkadang rapuh dan terkadang kuat ini.

Senin, 17 November 2008

UU APP Memusnahkan Virus Pornografi dan Meluluhlantakan Hama Pornoaksi

Indonesia sedang gusar, begitulah ungkapan yang dapat menggambarkan bagaimana perwajahan Negara kita ini, Negara yang konon disandang sebagai Negara yang kaya akan hasil alamnya ini, sampai-sampai Belanda dan Jepang tergila-gila terhadap Indonesia pada perang dunia ke-II, sehingga kedua negara itu mau menjajah Indonesia dengan habis-habisan. Namun, tiba-tiba seiring perkembangan zaman dan berjalannya waktu, Indonesia mulai surut kehebatannya. Bagaimana tidak surut, jika eksploitasi membabi buta dimana-mana yang dilakukan oleh investor yang tidak bertanggung jawab, baik lokal maupun asing, inilah penyebab utama yang menjadikan sumber alam kita kian mengkhawatirkan dan terpuruk. Bukan hanya eksploitasi di sektor alam saja terjadi, tetapi sudah merambah kepada pengekspolitasian akhlak dan moral.

Inilah model penjajahan zaman modern, penjajahan yang lebih kejam dari penjajahan zaman dahulu. Jika zaman dahulu musuhnya nampak terlihat dengan jelas, tetapi penjajahan zaman sekarang tidak tampak jelas sama sekali, bahkan tidak disadari bagi sebagian orang, ia menanggap hanyalah kenikmatan dan kesenangan saja, padahal jika diteliti disinilah letak jahatnya penjajahan zaman sekarang. Penjajahan zaman sekarang bermuka senyum namun pada akhirnya menyesatkan dan menghancurkan, yang lebih hebatnya lagi adalah menghancurkan dengan cara sedikit demi sedikit, agar sakit dirasa.


Diakui atau tidak, Negara kita krisis dimana-mana, mulai dalam arena panggung politik, hingga ajang olah raga. Mungkin kita mulai bosan dengan berita-berita yang tidak menyenangkan dihati, ingin rasanya terdapat berita yang menggugah hati atau bahkan membuat kita bangga dengan keindonesiaan kita. Namun puji syukur kepada yang Kuasa karena akhir-akhir ini ada pengumuman yang membuat hati kita lega dari pemerintah Indonesia. Pengumuman itu bagaikan seteguk air di padang pasir pada saat matahari menyengat kulit.


Pengumuman itu adalah pengesahan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU AAP), konsep yang semulanya bermula tiga tahun lalu ini menjadi isu besar yang mencuat di Negara kita. Ada yang sangat setuju dan tersenyum dengan pengesahan RUU AAP, ada pula yang diam seribu bahasa tanpa berkomentar satu huruf pun, atau bahkan ada yang berkoar-koar dan mewek dengan pengesahan ini, tanda tidak setuju.


Kita patut bersyukur atas pengesahan RUU APP ini, bagaimana tidak, jika tujuannya adalah baik dan demi kemashlahatan bersama. Dan sudah seharusnya lah semua komponen masyarakat Indonesia mendukung pengesahan RUU APP, karena ini untuk mencegah pengeksplotasian moral dan akhlak generasi bangsa yang akan berefek kepada masa depan Negara Indonesia. Coba kita renungkan sejenak pergaulan remaja di sekitar kita pada sekarang ini, adakah kekaguman atas akhlak remaja Indonesia saat ini? Atau kah malah hanya kekecewaan yang timbul?, jika kekecewaan yang timbul maka kita sebagai warga yang mencintai Indonesia maka harus merubah dan membenarkan pergaulan remaja yang condong dengan gaya pergaulan bebas dengan embel-embel free seks.


Pengesahan RUU APP bukanlah awal pengubahan hukum indonesia dari UUD ke syariat Islam, dan bukan pula untuk mengislamisasikan indonesia, tapi pengesahan RUU APP ini awal kebangkitan indonesia, bangkit dari keterpurukan moral dan bangkit dari lembah hitam yang kelam bagi generasi penerus bangsa yang tersesat dengan pornoaksi dan pornografi. Ingatlah oleh kita semua, peraturan bukanlah untuk mengekang manusia, dan bukan pula untuk menutup karya manusia, tetapi peraturan ini adalah untuk merubah akhlak yang mesum kepada akhlak yang mulia. Mungkin ada sebagian orang tanpa ada peraturan bisa tetap dijalan kebenaran, namun ada pula sebagian orang akan bertindak dijalan kebenaran jika ada sebuah peraturan yang berlaku. Oleh karena itulah RUU APP ini tidak merugikan orang lain, tetapi malah akan menjadi pelindung bagi orang yang mencari kebenaran.


Pornografi sudah menjamur di Indonesia, bahkan penjualan VCD dan DVD aurat ini seperti menjual kacang di pasaran, dengan harga miring dan dimana pun ada. Sehingga tidak mustahil jika pornografi bisa diakses oleh semua kalangan, bahkan anak Sekolah Dasar pun bisa menjadi korbannya. Belum lagi di Internet yang begitu banyak situs-situs maksiat yang akan menenggelamkan generasi bangsa dengan fantasi-fantasi yang mesum, dan sudah pasti akan hancurlah moral bangsa ini, diakibatkan oleh penjajahan modern yang menjadi-jadi dengan satu umpan yang ampuh yaitu pornografi.


Belum habis pornografi dibabat, tetapi sudah tumbuh pornoaksi. Pornoaksi ini diklaim oleh sebagian orang adalah seni. Apakah benar pornoaksi itu adalah seni, jika berefek hancurnya generasi bangsa?. Apakah betul pornoaksi seni, jika menimbulkan kemaksiatan yang dahsyat?. Dan apakah tepat bahwa pornoaksi adalah seni, jika merugikan orang lain?. Jawablah dihati anda dengan jujur pertanyaan-pertanyaan itu semua.


Seni adalah ciptaan Allah yang istimewa, yang membuat orang tertegun dan merasa takjub. Allah menciptakan seni semata-mata agar hambanya mau beribadah kepada Allah. Seharusnya orang yang menggeluti bidang seni bisa bersyukur lebih dalam lagi, karena ia akan menemukan kebasaran dan kehebatan ciptaan Allah. Contohnya saja seorang pelukis, ia melukis ciptaan Allah yang Maha Dahsyat, semakin ia tenggelam dilukisannya itu, maka ia semakin takjub kepada penciptanya, maka ia akan bergumam, "Maha Besar Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan begitu agungnya".


Jadi, seni itu bukan membuat orang jauh dari Allah, tapi seni itu adalah sarana yang baik untuk semakin dekat dengan Allah dan akan menjadikan kita sebagai golongan orang-orang yang bersyukur. Maka jika begitu apakah kita berani mengatakan, "Pornografi dan Pornoaksi adalah Seni", hanya orang yang bodoh dan hatinya hitamlah yang berkata seperti itu. Yuk!! Kita tuntaskan aksi pornografi dan pornoaksi di negara kita ini melalui UU APP, semoga Negara kita menjadi Negara yang damai dan sejahtera, amin.

--------------

Oleh: Ibnu Saduki al-Bekasi (Adi Nurseha)

Minggu, 10 Agustus 2008

Hikmah Peristiwa Isra' dan Mi'raj Part. 3 (Terakhir)

04. Memperkokoh Loyalitas atau Kesetiaan Umat Islam

Isra dan Mi’raj adalah rihlah-nya atau jalan-jalannya Rasulullah Saw. yang sungguh-sungguh sangat spesial, bagaimana tidak, hanya Rasulullah Saw. yang mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan yang sangat mulia ini. Mungkin hati kita akan bertanya-tanya, mengapa Isra’ dan Miraj-nya Rasulullah Saw. disebut juga jalan-jalan! Hal ini dikarenakan berbagai fakta yang menarik terjadi sebelum peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini terjadi.


Berbagai fakta terkait dengan diberlakukannya Isra’ dan Mi’raj ini yang paling kentara adalah wafatnya dua orang yang sangat dicintai oleh Rasulullah Saw, bahkan kedua orang inilah yang selama ini menopang dakwah Rasulullah Saw. dalam menyebarkan agama yang rahamatal lil alamin ini. mungkin entah apa jadinya jika dakwah Rasulullah Saw. tidak ditopang dengan dua orang ini. mungkin perjalanan dakwah Rasulullah Saw. sungguh berat sekali.


Dua orang itu adalah Siti Khadijah dan Abu Thalib. Siti Khadijah adalah istri Rasulullah Saw. Yang sangat dicintainya, bahkan Siti Khadijah inilah yang pertama-tama mengakui ke-Rasul-an Rasulullah Saw. ketika Rasulullah Saw sekembalinya dari Gua Hiro, bukan hanya itu saja, tetapi juga Siti Khadijah yang selama ini menopang dakwah Rasulullah Saw. Dalam segi dana atau materi. Pada kala itu Siti Khadijah merupakan0 saudagar wanita yang sangat kaya, sehingga segala keperluan dakwah Rasulullah Saw. dibantu oleh Siti Khadijah sang istri tercinta, sehingga dakwah Rasulullah Saw. pun sangat mulus sekali, tanpa ada kendala sedikitpun, apalagi Siti Khadijah adalah cerminan wanita shalihah yang sudah sepatutnya menjadi panutan bagi wanita-wanita zaman sekarang yang memerlukan contoh untuk kehidupannya, maka jangan ada keraguan lagi untuk mengikuti apa yang dilakukan Siti Khadijah yang sungguh-sungguh sangat dermawan dan baik hati demi kepentingan dan kemajuan Islam.


Yang kedua adalah Abu Thalib, seorang sosok yang sangat kharismatik dan berwibawa di kalangan kaum Quraisy, seorang pemimpin yang sangat dikagumi oleh masyarakat ketika itu. Beliau adalah paman Rasulullah Saw. Yang juga dicintai oleh Rasulullah Saw., walaupun Abu Thalib belum mengikrarkan dirinya masuk ke dalam agama Islam, namun dari segi pembelaan terhadap Rasulullah Saw. kita akan meyakini bahwa beliau sangat percaya dengan apa yang dikatakan Rasulullah Saw. ketika berdakwah kepada kaum Quraisy. Oleh karena itu beliau adalah yang menopang dakwah Rasulullah Saw. dalam segi perlindungan dari kejahatan-kejahatan kaum Quraisy yang sangat benci kepada dakwah Rasulullah Saw.. Bahkan diakhir hayatnya pun beliau belum sempat mengikrarkan syahadat kepada Rasulullah Saw. dikarenakan posisinya sebagai pemimpin kaum Quraisy saat itu.


Oleh karena itu Rasulullah Saw. sedih sekali atas cobaan yang didapatkannya, bagaimana tidak sedih, dua orang yang sangat dicintainya dan dua orang yang selama ini menopang dakwahnya meninggal dunia, sehingga Allah SWT. pun menghibur Rasulullah Saw. yang sedang bersedih itu dengan memerintahkannya untuk jalan-jalan yakni ber-Isra dan ber-Mi’raj dengan tiket yang spesial yakni bertemu langsung dengan Allah SWT.


Selain untuk menghibur Rasulullah Saw., Allah SWT. juga ingin menyampaikan pesan moral kepada Rasulullah Saw. bahwa boleh saja ada yang membantu perjuangan dakwah Rasulullah Saw., Namun sebagai seorang Nabi sangatlah tidak pantas jika dakwahnya sangat tergantung dengan bantuan orang lain, seharusnya ketergantungan dan pengharapan perlindungan hanyalah pantas disandarkan kepada Allah SWT., bukan kepada manusia saja.

Hikmah yang keempat ini bukan hanya dikhususkan bagi Rasulullah Saw. saja, namun bisa juga kita lakukan sebagai umat Rasulullah Saw. dalam berdakwah. Pada hakekatnya semua manusia adalah memiliki kewajiban dakwah, namun berbeda dalam garapan berdakwahnya, bisa melalui menjadi seorang ibu yang berdakwah kepada anak-anaknya, atau seorang suami yang berdakwah kepada keluarganya, atau seorang presiden berdakwah kepada masyarakatnya, dan lain sebagainya, hingga kepada dakwah yang paling kecil yaitu berdakwah kepada diri sendiri.


Ini sengat penting sekali, jika kita berdakwah maka sudah seharusnyalah kita tidak tergantung kepada bantuan orang lain saja, Islam tidak melarang kita minta bantuan kepada orang lain, tetapi apakah pantas jika kita sangat tergantung, karena ada zat yang sangat hebat, yang seharusnya Dia-lah yang menjadi tempat kita bergantung dan berharap dalam berdakwah, baik kepada diri sendiri, keluarga hingga masyarakat, yuk! Kita berdakwah.

Jumat, 01 Agustus 2008

Hikmah Peristiwa Isra' dan Mi'raj Part. 2

02. Kenaikan ke Sidrah al-Muntaha

Setelah Rasulullah Saw. berjalan malam hari dari Masjid al-Haram Menuju Masjid al-Aqsa, maka Rasulullah Saw. pun meneruskan perjalanannya, setelah melakukan sholat sunnah dua raka’at di Masjid al-Aqsa, Rasulullah Saw. naik ke Sidrah al-Muntaha hingga bertemu Allah SWT. di arsy-Nya.


Kenaikan Rasulullah Saw. ini bukan hanya sekedar kenaikan biasa, lebih dari itu. Dari segi tujuan memang sudah jelas Rasulullah Saw. ber-Isra dan Mi’raj dengan tujuan memenuhi undangan dari Allah SWT. selain itu juga untuk mendapatkan wahyu perintah shalat lima waktu yang sangat masyhur ceritanya. Namun keluar dari tujuan-tujuan tersebut, Mi’rajnya Nabi Muhammad Saw. ini pun masih mempunyai arti yang sangat mendalam.


Mi’raj menurut bahasa yaitu naik dengan anak tangga, dari segi bahasa saja bisa kita galih bahwa begitu hebatnya makna peristiwa Mi’raj ini, mari kita telusuri ada apakah dibalik makna Mi’raj ini? sebuah kenaikan yang terkandung dari makna Mi’raj ini seakan-akan memberi sebuah pesan bagi seluruh umat Islam, yakni umat Islam haruslah bisa Mi’raj atau naik. Sebenarnya hikmah yang kedua ini ada kaitannya dengan hikmah yang pertama, yaitu jika umat islam sudah dididik di masjid dan sudah ada kemajuan-kemajuan yang berarti maka sudah seharusnya pula umat Islam meningkatkan dari segi kualitas, kuantitas, hingga prestasi. Hal ini sangat penting sekali bagi umat islam karena kualitas, kuantitas, dan prestasi merupakan sebuah cerminan bagaimana kemajuan yang sudah ditingkatkan oleh umat islam. Jangan sampai maju saja namun tidak meningkat dari segi mutu dan kualitas.


Lalu bagaimanakah umat Islam untuk menjaga agar kualitasnya membaik dan semakin meningkat?, maka dengan cara anak tanggalah umat Islam bisa menjaganya, artinya step by step, ini sangat penting karena peningkatan tidak serta merta langsung sampai puncak, tetapi diawali dengan bagian yang paling bawah, dilanjutkan bagian tengah dan diakhiri pada bagian puncak. Contohnya ketika kita ingin memanjat sebuah pohon kelapa dan ingin mendapatkan buah kelapa yang segar, maka kita pun harus menaikinya dari bawah, tidak mungkin kita menaikinya dari atas ke bawah jika seperti ini berarti pemikiran yang ngawur. Sedikit demi sedikit begitulah pesan yang tertuang di dalam peristiwa Mi’raj ini, maka sudah seharusnya umat Islam meniru apa yang dipraktekan oleh Nabi Muhammad Saw. agar umat Islam maju dan meningkat dalam berbagai bidang.


03. Menunjukan bahwa Ilmu Allah SWT. sungguh Luar Biasa


Pada zaman Nabi Muhammad Saw. kebanyakan manusia tidak mempercayai adanya Isra’ dan Mi’raj, bahkan umat Islam sendiri kala itu masih ada yang tidak mempercayai peristiwa ini, bagaimana bisa percaya, jika ada seorang manusia bisa terbang hingga langit ke tujuh dalam waktu yang sesingkat itu, anehnya lagi Nabi Muhammad Saw. Hidup pada zaman yang belum ada teknologi yang secanggih seperti sekarang ini, maka kebanyakan orang berpikir bahwa peristiwa ini adalah sesuatu yang mustahil dan hanyalah mengada-ada belaka.


Pernyataan di atas adalah hanyalah menurut pandangan ilmu manusia semata, namun menurut ilmu Allah SWT. hal itu sangat mudah sekali, jika Allah SWT. menghendaki maka kehendak Allah SWT. tidak bisa dicegah dan tidak bisa disangka menurut akal manusia, seandainya Allah SWT. menunjukan yang lebih hebat lagi daripada peristiwa itu maka sangat mudah sekali bagi Allah SWT..


Dari sini kita bisa menilai bahwa ilmu manusia sangat sedikit sekali dibandingkan ilmunya Allah SWT., ilmu manusia bagaikan setetes air yang mengalir diujung jarum tetapi ilmu Allah SWT. bagaikan samudra yang terbesar di dunia ini, oleh karena itu melalui Isra’ dan Mi’raj ini Allah SWT. berpesan kepada manusia agar janganlah sombong dengan ilmu yang sudah didapatkannya, manusia kadang terlalu sombong disaat ilmunya sudah menjulang tinggi, merasa dirinyalah yang paling pintar, paling ‘alim, dan paling benar. Allah SWT. tidak menyukai orang yang menyombongkan diri di dunia ini, yang berhak sombong di jagat alam ini hanyalah Allah SWT., selain Allah SWT. tidak boleh sombong sedikitpun, karena semuanya yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah SWT..


Sombong yang dimaksud di sini bukan hanya sombong karena ilmu saja, tetapi sombong dalam berbagai hal, baik harta, pangkat, jabatan, badan, dan lain sebagainya. Bahkan sombong adalah perbuatan buruk yang pertama kali muncul, sebagaimana yang dilakukan oleh golongan syeitan yang tidak mau bersujud kepada Nabi Adam as., karena menurut syeitan dirinyalah yang lebih mulia daripada Nabi Adam as., dikarenakan dirinya terbuat dari api sedangkan Nabi Adam as. hanyalah terbuat dari tanah yang busuk, oleh karena itu syeitan ini adalah makhluk Allah SWT. yang pertama kali melakukan perbuatan jahat dan makhluk Allah SWT. yang pertama kali melakukan perbuatan sombong. Maka barangsiapa yang berbuat sombong sudah pastilah ia berteman dengan syeitan.


Lalu, Apakah kita masih sombong jika ilmu adalah milik Allah SWT.? Apakah kita masih berbangga diri jika ketampanan dan kecantikan kita juga milik Allah SWT.? Apakah kita masih menghina orang lain jika harta yang kita miliki adalah milik Allah SWT.? Bahkan roh yang ada di badan kita juga adalah milik Allah SWT., pada akhirnya hakekatnya manusia adalah tiada dan yang ada hanyalah Allah SWT., maka apakah kita masih sombong?


Hilangkanlah kesombongan di dalam hati, jadilah manusia yang benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT., tidak ada gunanya bersikap sombong, yang ada hanyalah kekerasan hati dan kebusukan perasaan yang merasuk ke dalam jiwa, jika manusia sudah berbuat sombong maka kehambaannya kepada Allah SWT. perlu dipertanyakan, karena hakekat seorang hamba adalah ia tidak memiliki apapun tetapi semuanya milik majikannya, oleh karena itu jadilah hamba yang sebanar-benarnya hamba, jangan menjadi hamba yang nyeleneh.

Senin, 28 Juli 2008

Hikmah Peristiwa Isra' dan Mi'raj Part. 1

Isra’ menurut bahasa berarti berjalan pada malam hari, sedangkan Mi’raj menurut bahasa berarti naik dengan anak tangga. Sedangkan menurut istilah syara’, Isra’ dan Mi’raj adalah sebuah perjalanan Rasulullah Saw. Pada malam hari dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsa kemudian dilanjutkan kembali dari Masjid al-Aqsa naik ke atas langit, hingga ke Sidrah al-Muntaha yang berhujung kepada menghadap sang Khalik Jagat Alam ini yaitu Allah SWT..


Dari definisi di atas kita sudah pasti akan menilai, bahwa peristiwa ini sungguh hebat dan memukau, bagaimana tidak, seorang hamba Allah bertemu langsung dengan Allah SWT., yang sudah pasti tak disangka dan tidak diduga lagi bahwa hamba yang seperti ini adalah hamba yang luar biasa, siapa lagi jikalau bukan Nabi Besar dan Nabi Akhir Zaman yaitu Nabi Muhammad Saw., yang sudah sangat masyhur sekali, bukan hanya dikalangan penduduk bumi saja, tetapi juga dikalangan penduduk langit. Nabi Muhammad Saw.-lah yang mendapatkan tiket secara langsung bertemu sang Khalik, padahal Nabi-Nabi sebelumnya tak ada satu pun yang mendapatkan tiket atau undangan VIP dari Allah SWT.

Sehingga peristiwa ini begitu sangat sakral dan Istimewanya bagi Umat Islam sendiri, oleh karena itu diadakanlah acara Isra’ dan Mi’raj hamper diseluruh dunia, dan yang lebih khusus lagi Indonesia sebagai Negara yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam yang sudah barang tentu mengadakan acara semacam ini, mulai dari ormas-ormas Islam hingga Pengajian Rutinan, dan yang mengadakan acara ini pun dari berbagai kalangan yang berbeda-beda, mulai para orang tua hingga anak-anak di sekolah TPA.

Menjamurnya acara Isra’ dan Mi’raj diseantero Nusantara ini membuat umat Islam bangga, begitu kompaknya Umat Islam mengadakan acara yang sungguh-sungguh mulia dan sakral ini. Namun pada realitanya acara hanyalah sebatas acara, yang isinya hanyalah sebagai pengingat bukan sebagai penggerak, coba kita bayangkan berapa kali kita mengikuti acara Isra’ dan Mi’raj selama kita hidup? Dan berapa banyakkah yang bisa kita petik hikmah dari acara Isra’ dan Mi’raj selama kita hidup? Maka kita akan kebingungan menjawabnya.

Lalu apakah yang salah terhadap semua ini? Apakah yang mengelola acara tersebut yang salah? ataukah kita yang mengikuti acara tersebut belum bisa mengambil dan memetik bunga yang seharusnya sebagai penghias hati kita, bukan sebagai bunga yang malah kita petik lalu dibuang saja dengan percuma, maka jawabannya ada di dalam hati masing-masing pembaca sekalian.

Terlepas dari itu semua, penulis menginginkan makna dari Isra’ dan Mi’raj ini agar lebih kental dengan menyodorkan 4 hikmah yang terkandung di dalam peristiwa yang sungguh luar biasa ini yaitu Isra’ dan Mi’raj:

01. Sebuah Perjalanan dari Masjid ke Masjid

Yang sudah kita ketahui bahwa perjalanan Rasulullah Saw. pada malam hari dari Masjid al-Haram di Mekkah al-Mukarramah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina, dari sini kita bisa mengambil 2 buah kesimpulan yaitu “sebuah perjalanan” dan kata “Masjid”, ada apa dengan dua kesimpulan ini? mari kita akan membahasnya bersama-sama.

Pertama, sebuah perjalanan yang mempunyai arti maju atau kemajuan, contohnya jika kita ingin pergi ke pasar hendaknya kita melakukan sebuah perjalanan menuju pasar yang kita tuju, dan perjalanan itu sudah pasti maju, tidak mungkin jika kita berjalan malah mundur ke belakang, ini akan menjadi salah kaprah dan bahkan akan berefek kepada kita, karena kita tidak akan sampai di tempat tujuan, disebablakan kita melakukan perjalanan yang mundur. Oleh karena itu kesimpulanannya setiap yang berjalan pasti maju ke depan.

Yang kedua, kata Masjid, dalam peristiwa ini Nabi Muhammad SAW. singgah dari masjid ke masjid, ini mempunyai arti yang ada kaitannya dengan kesimpulan yang pertama, dengan menarik sebuah pemikiran bahwa jika Umat Islam ingin menjadi umat yang maju dari segi fisik, moral, akhlak, ilmu dan lain sebagainya, maka haruslah dibina dari masjid, dididik di masjid dan dibesarkan dalam lingkungan masjid.

Hal ini sangat berpengaruh sekali dalam segi psikis Umat Islam. Umat Islam yang jauh dengan masjid atau yang tidak mau meramaikan masjid, maka ia akan sulit sekali untuk melakukan ibadah-ibadah yang disukai oleh Allah SWT., ini tercermin dari sisi lingkungan, karena lingkunganlah yang paling berpengaruh dari segi kejiwaan seseorang, apakah ia baik ataukah malah sebaliknya? Semua ini ada kaitannya dengan lingkungan, oleh karena itu para generasi penerus bangsa, mari ramaikanlah masjid-masjidmu demi kejayaan Islam dengan berbagai kegiatan bukan hanya semata ibadah shalat dan membaca al-Qur’an saja, tetapi semua kegiatan yang bermanfaat hendaklah dilaksanakan di masjid, jadikanlah masjid sebagai markas besar seluruh Umat Islam.

Hal ini tidak bisa dipungkiri lagi bahwa semenjak dahulu yaitu ketika zaman Nabi Muhammad SAW. yang kala itu umat Islam ingin maju melalui sarana Masjid. Masjid pada zaman Nabi Muhammad Saw. sebagai pusat pelatihan, pusat meditasi, pusat konsultasi hingga pusat strategi berperang. Masjid zaman dahulu bukan hanya digunakan sebagai sarana ibadah saja, tetapi juga sebagai pusat pelatihan bagi para pemuda dan generasi penerus Islam, sebagai pusat meditasi bagi seluruh umat Islam kala itu, untuk mendapatkan santapan rohani dan taqarub kepada Allah SWT., sebagai pusat konsultasi bagi umat Islam yang belum mengerti dengan secara kaffah agama Islam dan yang terakhir sebagai pusat strategi berperang ketika umat Islam dalam masa berperang.

Oleh karena itu mari bersama-sama mengembalikan fungsi masjid ke bentuk asalnya, yaitu masjid seperti zaman Rasulullah Saw., sebagai pusat kegiatan apapun yang bermanfaat bagi kelangsungan dan kejayaan umat Islam sebagai Umat yang rahmatal lil ‘Alamin. Amin.

Bersambung ke Part. 2.....

Jumat, 20 Juni 2008

Antara Manusia yang Shalih dan yang Thalih

Allah SWT. menciptakan manusia dari tanah liat, tetapi Allah SWT. menciptakan manusia sungguh sangat istimewa sekali, sehingga Allah SWT. menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi ini, untuk mengatur system peradaban manusia, selain itu Allah SWT. menanamkan juga pada manusia dengan akal dan nafsu, oleh karena itu dengan kedua ciptaan Allah SWT. yang ditanam pada manusia ini menjadikan adanya peradaban dan isteraksi sosial. Selain itu manusia juga mempunyai dua sifat karakter berbeda, yaitu manusia yang shalih dan manusia yang thalih, kedua karakter ini tidak lepas dari adanya penguasaan akal dan nafsu.

Manusia yang shalih adalah seorang yang mengatahui Tuhannya dengan pengetahuan yang baik dan mendalam, sehingga ia menjalankan perintah Allah SWT. sebaik-baiknya dan menjauhi larangannya, apalagi pada fitrahnya manusia selalu ingin melakukan perbuatan baik dan enggan untuk melanggar, karena Allah SWT. menanamkan kebaikan di hati manusia sebelum tumbuhnya keburukan, oleh karena itu ketika manusia melakukan perbuatan maksiat dan keburukan, maka akan timbullah di dalam hati rasa penyeselan. Oleh karena itu manusia akan hatinya tenang jika ia berada dalam ridhaNya dan akan gelisah jika ia berada di luar ridhaNya.


Manusia tidak dapat menghindari bahwa kehidupan di dunia ini adalah sebuah perjuangan yang harus dihadapi, tetapi perjuangan ini haruslah dengan koridor yang diridhai oleh Allah SWT. jangan sampai melewati batas dengan apa yang ditentukan oleh Allah SWT., yaitu menuju jalan yang lurus sesuai dengan pengertian taqwa (Menjalankan apa yang dilarang oleh Allah SWT. dan menjauhi apa yang dilarang-Nya), janganlah sekali-kali membelok arah apalagi berbalik arah sehingga akan menjerumuskan dan bahkan lebih menyeramkan lagi akan tersesat tak akan kembali. Oleh karena itu dengan berjalan lurus ini maka akan timbullah dalam hati sebuah keyakinan untuk menjadi hamba Allah SWT. yang benar-benar hamba.


Sedangkan manusia yang thalih adalah kebalikan dari manusia yang shalih, yaitu seorang yang terputus dari jalan Allah SWT. baik melalui ibadah secara langsung ataupun ibadah yang tidak secara langsung. Maka ia pun belum dapat menjalan perintahNya, dan sudah pasti melakukan laranganNya. Ia akan selalu merasa kegelisahan yang mendalam, mungkin ia akan senang sementara, tetapi itu hanyalah sementara, ketika waktunya tiba, maka penyesalan yang mendalam akan terjadi.


Penyebab itu semua adalah musuh manusia, musuh yang Rasulullah Saw. sendiri menyatakan bahwa ialah musuh yang paling berat, dan bahkan jihad yang paling berat adalah melawan musuh ini, siapakah ia, ia adalah syeitan laknatullah ‘alaihi. Ia lah makhluk Allah SWT. yang pertama kali ingkar, bahkan lebih mengerikan lagi adalah ia mengajak makhluk Allah SWT. yang lainnya untuk ingkar, agar syeitan mendapatkan teman yang banyak di hari akhir nanti, dan juga tentunya syeitan akan tertawa terbahak-bahak melihat makhluk Allah SWT. yang menurut fitrahnya adalah baik, bisa terjerumus dilembah neraka yang jaraknya dari langit ke bumi. Makhluk yang di ajakanya itu kalau bukan manusia siapalagi, dan sudah pasti pancingannya adalah nafsu yang tertanam di dalam diri manusia.

Dua sifat ini juga digambarkan di dalam kitab suci al-Qur’an sebagai amalan kejahatan dan amalan kebajikan, dalam surat Ali ‘Imran ayat 30, Allah SWT. berfirman yang artinya:


Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya


Amalan kebajikan adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang shalih, sedangkan amalan kejahatan sudah tentu dilakukan oleh orang yang thalih, tetapi pada ayat yang di atas ini, Allah SWT. lebih menekan kepada orang-orang yang thalih, agar jangan mengira bahwa dikehidupannya ada waktu yang panjang. Karena memang pada kenyatannya orang yang thalih ini lupa akan kehidupannya didunia, yang hanya mengontrak, yang hanya diberi jatah enam puluh tiga tahun, itupun mungkin Allah SWT. masih sayang kepadanya, atau malah akan dikorting umurnya.


Peringatan Allah SWT. ini langsung mengena ke hati orang yang thalih, agar ia merubah perbuatannya, yang dahulu berbuat mungkar kepada Allah SWT. menjadi berbuat kebajikan, karena mereka akan menyadari kehidupan akhirat adalah jalan yang panjang sekali, maka jika perjalanan yang panjang itu tidak dipersiapkan dengan bekal yang matang, maka akan kehausan bahkan kelaparan, yang akan membuat dirinya terjerumus ke dalam api yang panasnya seribu kali lipat dari pada api di dunia ini.


Allah SWT. mengancam orang-orang yang thalih ini dengan neraka yang dinyatakan dalam firmanNya surat al-Baqarah ayat 81 yang artinya, “(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”


Sedangkan orang-orang yang shalih pun akan mendapatkan hal yang setimpal, dalam firman Allah SWT. di dalam surat yang sama, yaitu al-Baqarah ayat 82 yang artinya, “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.”


Oleh karena itu benar lah kata pepatah, “Manusia harus memilih antara dua pilihan”, maka manusia shalih dan manusia thalih, adalah sebuah pilihan yang seharusnya dipilih manusia, apakah ia ingin bersama syeitan menjadi pendamping setia, atau kah bersama orang-orang yang shalih dan orang-orang yang benar, di jannah firdausnya, maka “Cobloslah mana yang anda sukai”. Wallahu’ alam

Kamis, 19 Juni 2008

Ratapan dari Hamba yang Penuh Dosa

Ya Allah ampunkanlah dosa hambaMu ini, hambaMu yang kadang sombong dihadapanMu, hambaMu yang sering ingkar akan segala kenikmatan yang Engkau berikan, dan hambaMu yang sering lupa untuk bersyukur kepadaMu.

Sombong karena hamba merasa diri hamba sudah hebat, sudah kuat, dan sudah tidak bergantung pada siapapun, padahal hanya Engkaulah yang berhak sombong, apa yang di banggakan dari hamba, apa yang dimiliki oleh hamba, dan apa kepunyaan hamba! Semuanya adalah milikMu ya Allah, semuanya kepunyaanMu ya Allah, dan semunya hanyalah amanah dariMu ya Allah, maka tidak pantaslah diri ini menyombongkan diri. Ya Allah bimbinglah hambaMu ini untuk selalu menjaga amanahMu dengan sebaik-baiknya.


Ingkar karena hambaMu sudah dilupakan oleh kenikmatan dunia yang gemerlap dan yang fana, kenikmatan yang semu belaka, padahal kenikmatan itu hanyalah ujian bagi hamba, kenikmatan yang tak seharusnya melupakan hamba dariMu, tetapi kenikmatan yang akan menguatkan hati hamba untuk terus menerus mendekatkan diri kepadaMu.


Lupa karena hati hamba menghitam pekat disebabkan banyak sekali maksiat yang hamba lakukan, padahal Engkau sangat murka dengan orang yang berbuat maksiat, hamba ingin sekali tidak melakukan itu semua, tapi hati hambaMu ini sulit sekali keluar dari gelapnya hati. Oleh karena itu ya Allah berilah hamba petunjukMu, petunjuk yang dapat menerangkan hati hamba, petunjuk yang dapat menguatkan hati hamba, dan petunjuk yang dapat membawa hambaMu ini untuk menggapai ridhaMu ya Allah.


Ya Allah berapa banyak nikmatMu yang hamba ingkari dan kufuri, harus berapa lama lagi ya Allah, hambaMu ini berada dalam kesesatan, kesesatan yang menyesak hati dan menyayat hati, ingin sekali bisa merengkuh nikmatnya Iman dan nikmatnya Islam, tetapi lagi-lagi ya Allah, hamba terhambat, dikarenakan kemalasan hamba, kelalaian hamba ataupun bahkan kosombongan hamba.


Ya Allah terangkanlah dan cerahkanlah hati hambaMu ini, secerah mentari pagi hari yang dapat menerangi kegelapan malam dan menghancurkan kekufuran. Hati hamba bergejolak tak karuan, kadang naik bahkan kadang turun, padahal hamba telah berusaha untuk tidak seperti itu, hanya pertolonganMu lah ya Allah yang dapat menjadikan hamba kuat untuk menghadapi semua itu, berilah kekuatan hamba untuk mempertahankan ketika iman hamba sedang kuat, dan berikan kekuatan pula ketika iman sedang turun agar bisa meningkat lagi, sehingga hamba bisa mendekat denganMu dengan hati yang bersih dan suci, hamba tidak ingin menemuiMu ketika hamba sedang kotor, ketika hamba berhati hitam, dan ketika hamba terperosok ke dalam jurang yang gelap gulita sehingga menggelapkan mata batin ini.


Ya Allah sering sekali hati ini berpaling dariMu, cinta yang Engkau ciptakan kepada hamba yang Engkau tanam di hati hamba, sering sekali hamba manfaatkannya bukan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepadaMu, tetapi kadang cinta ini membuat hamba lupa padaMu, lupa dari segala-galanya. Hamba sering sekali lebih mencintai ciptaanMu daripada kepadaMu ya Allah. Hamba sering mencintai lawan jenis tidak karenaMu ya Allah, hamba lebih sering mencintai harta tidak karenMu ya Allah, dan hamba lebih sering mencintai tahta tidak karenaMu ya Allah. Cinta apakah itu ya Allah, apakah bukan cinta tapi hawa nafsu yang membuncah, jika benar memang hanya sebuah hawa nafsu, maka lepaskanlah ya Allah cinta yang seperti itu, hamba tidak ingin merasakan cinta yang seperti itu, cinta karena hawa nafsu, cinta yang tidak baik untuk kesehatan hati hamba ini ya Allah.


Ya Allah semoga deraian air mata yang menetes ini sebagai saksi bahwa hamba benar-benar ingin bertaubat kepadaMu, bertaubat dari perbuatan kemaksiatan, bertaubat dari hati yang berprasangka buruk, dan bertaubat dari fikiran-fikiran yang kotor. Biarkanlah air mata taubat ini menetes dengan ikhlas, sehingga hati yang keras sekeras baja ini bisa luluh dengan keikhlasan air mata ini.


Ya Allah berapa banyak hati manusia yang tersakiti oleh tajamnya lidah ini, padahal lidah ini amanah dariMu ya Allah yang harus hamba jaga dan rawat. Hamba sering mengaku cinta padaMu tetapi jarang sekali lidah ini menyebut namaMu malahan lebih sering menyebut saudara hamba dengan sebutan hinaan, makian dan cacian bahkan tidak jarang hamba membuka aibnya. Dimanakah ya Allah letak cinta hamba kepadaMu, sungguh hina dina diri hambaMu ini.


Ya Allah berapa banyak kulit manusia yang tersakiti oleh kerasnya pukulan tangan ini. Jarang sekali tangan ini untuk bersedekah, padahal di kiri dan di kanan hamba masih banyak saudara hamba yang kelaparan dan kesulitan tetapi hamba lebih sering menyakiti dan menyombongkan diri dihadapannya sulit sekali untuk mengulurkan bantuan kepada mereka. Kemudian tangan ini pun Jarang sekali digunakan untuk menulis ayat-ayat Qur’anMu ya Allah untuk berdakwah, tetapi lebih sering menulis kata-kata untuk menyakiti saudara hamba, untuk menghina saudara hamba, dan juga untuk menyesatkan saudara hamba.


Ya Allah mata yang Engkau amanahkan kepada hamba lebih sering digunakan untuk melihat hal-hal yang buruk, padahal jikalau Engkau menghendaki mata ini tidak dapat melihat lagi. Ya Allah bimbing mata ini untuk melihat ayat-ayat kauniyahMu ya Allah. Melihat firman-firmanMu ya Allah dan untuk melihat ciptaanMu yang begitu indah dan hebatnya.


Ya Allah kedua telinga yang Engkau amanahkan kepada hamba lebih sering hamba gunakan untuk mendengar ghibah, mendengar perkataan kotor, dan mendengar obrolan-obrolan yang tidak bermanfaat. Padahal hamba ingin sekali mendengar indahnya ayat-ayat cintaMu ya Allah, ingin mendengar firman-firmanMu ya Allah dan ingin sekali mendengar syari’atMu tegak dibumi ini.


Ya Allah bimbinglah hamba ini agar lidah, tangan, mata dan telinga hamba dapat menjadi sebagai sarana untuk menggapai ridhaMu ya Allah, hanya ridhaMu lah yang hamba cari, dan hanya RidhaMu lah kenikmatan yang terbesar bagi hamba.


Ya Allah jauhkan lah hamba dari setan yang terkutuk, setan yang selalu menggoda hamba ketika hamba mendekatkan diri kepadaMu, setan yang selalu menggrogoti iman dan Islam hamba, dan setan yang selalu memberikan kenikmatan yang semu tapi menghancurkan, belum cukupkah wahai setan engkau menghancurkan hidupku?


Ya Allah hamba hanya ingin menjadi hambaMu yang benar-benar hamba, seoarang hamba yang patuh dan ta’at seorang hamba yang siap menerima perintah apapun dariMu ya Allah, dan seorang hamba yang selalu mencintaiMu dimanapun dan kapanpun.


Ya Allah terima kasih dan bersyukur kepadaMu dari segala nikmat yang telah, sedang, dan akan Engkau berikan kepada hamba, jadikanlah hambaMu ini termasuk orang-orang yang bersyukur. Amin, amin ya Robal ‘alamin

Rabu, 18 Juni 2008

Tiga Perkara untuk Menyempurnakan Wudhu

Pada tulisan yang pertama saya yaitu “Yuuk!! Berwudhu” membahas tentang rukun-rukun wudhu dan sunnah-sunnah wudhu, sehingga jika kita telah membacanya maka kita akan mengatahui perbadaan-perbedaan yang terdapat di sekitar pembahasan tentang rukun-rukun wudhu, oleh karena itu ketika ada sebuah perbedaan yang terjadi, maka kita bisa menghadapi perbedaan itu dengan hati yang lapang dan saling menghormati, bukannya langsung menjustifikasikan bahwa perbuatan ini salah atau bahkan membuat statement membid’ahkan sesuatu perbuatan yang berbeda dengan apa yang sering kita lakukan.

Setelah kita mengetahui bagaimana menjalankan wudhu dengan mengikuti rukun-rukun wudhu yang ada, maka kita pun diharapkan untuk menyempurnakan wudhu yang kita lakukan, sebagaimana kita menyempurnakan ibadah sholat kita, mungkin dengan cara berusaha untuk khusu’, berjama’ah, dan lain sebagainya, begitupun dengan wudhu, wudhu juga sudah semestinyalah harus kita sempurnakan agar kita pun dalam ibadah wudhu berkesan dan juga tentunya mendapatkan balasan dari Allah SWT. yang Maha Bijaksana lagi Maha Kaya.


Wudhu membawa kita untuk bersuci secara dzahir maupun batin, oleh karena itu menyempurnakan wudhu sangat penting sekali, sehingga Imam Syafi’I pun berpendapat tentang menyempurnakan wudhu ini dengan mengatakan, “Sesungguhnya dalam menyempurnakan wudhu terdapat ketaqwaan kepada Allah SWT., dan sesungguhnya pula perbuatan itu (menyempurnakan wudhu) terdapat pengetahuan bagaimana cara beribadah kepada Allah SWT.”.


Dari pernyataan Imam Syafi’I tersebut kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa menyempurnakan wudhu memiliki sebuah daya tarik yang tinggi sekali sehingga perbuatan tersebut berkaitan dengan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. dan cara beribadah kita kepada Allah SWT., oleh karena itu ada tiga perkara agar wudhu kita bisa sempurna yaitu:


Penjagaan terhadap kewajiban-kewijaban dan sunnah-sunnahnya wudhu


Penjagaan terhadap kewajiban dan sunnah di sini, maksudnya adalah menjaga wudhu kita dari sifat-sifat yang salah dan kurang sempurna, artinya ketika kita berwudhu maka berhati-hatilah melakukannya. Jangan sampai tergesa-gesa karena akan tidak sempurna basuhan kita. Contohnya, di saat kita membasuh tangan, diusahakan agar basuhan kita sempurna, jangan sampai ada bagian dari tangan yang tidak terbasuh, dari ujung jari sampai kepada siku, karena tangan merupakan salah satu bagian wudhu.


Begitu pun dengan sunnahnya wudhu yang harus kita jaga dari kesalahan dan kekurangsempurnaan, walaupun sebuah hal sunnah, tetapi haruslah kita sempurnakan, karena sunnah merupakan ibadah kepada Allah SWT., lalu apakah layak jika kita hanya bermain-main dan asal-asalan dalam hal sunnah, padahal ini dipersembahkan untuk Allah.


Berwudhulah di setiap sholat


Artinya kita dianjurkan untuk berwudhu setiap kita hendak melakukan sholat, baik sholat sunnah apalagi sholat yang wajib. Lalu akan timbul sebuah pertanyaan, bagaimana wudhunya orang yang tidak berhadats, bukankah wudhu itu bertujuan untuk menghilangkan hadats? Maka jawabannya adalah, di dalam Islam mempunyai istilah tajdid al-wudhu yang artinya memperbaharui wudhu, ini merupakan amalan sunnah jika kita melakukannya, oleh karena itu kita bisa berwudhu setiap saat dan setiap sholat, indahkan?


Wudhu setiap sholat akan mempunyai atsar atau bekas, coba kita bandingkan antara orang yang tidak berwudhu dengan orang yang sering berwudhu, maka kita akan mengetahuinya dengan jelas. Orang yang sering berwudhu, biasanya wajahnya indah dan sejuk dipandang, bahkan mempunyai aura yang cemerlang. Berbeda dengan orang yang tidak berwudhu, maka walaupun ia ganteng atau cantik, tetapi ia-nya tidak mempunyai keindahan dan kesejukan ketika kita memandangnya. Prof. DR Ali Jum’ah yang merupakan mufti Mesir menyatakan bahwa berwudhu setiap kali sholat adalah bagaikan cahaya di atas cahaya baik bagi yang berwudhu maupun tajdid al-wudhu, ketika seseoarang itu membiasakan dirinya untuk berwudhu setiap sholat maka ia akan mendapatkan ganjaran yang sangat besar sekali di sisi Allah SWT.


Mengingatkan akan kesalahan dan dosa


Wudhu juga merupakan pengingat kita akan segala dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Karena pada hakekatnya wudhu bukan hanya bertujuan sabagai syarat sahnya sholat saja, tetapi juga lebih dari itu, yaitu mempunyai makna-makna yang terpendam di dalamnya. Salah satunya adalah mengingat akan dosa dan kesalahan kita.


Ketika kita berkumur-kumur, maka ingatlah dengan apa yang diucapkan oleh mulut ini, yang suka mencaci dan apalagi memfitnah. Ketika kita menghirup dan mengeluarkan air dari hidung, maka ingatlah dengan ciuman yang tidak dihalalkan oleh Allah SWT.. Ketika kita membasuh muka, maka ingatlah dengan dosa mata dan pipi yang sering kita gunakan untuk kemaksiatan. Ketika kita membasuh kedua tangan, maka ingatlah dengan perbuatan tangan ini yang sering memukul dan melukai orang atau bahkan mencuri. Ketika kita menyapu kepala, maka ingatlah dengan pikiran kotor yang pernah terlintas dikepala, pikiran yang menjurus kepada maksiat, dan pikiran yang membuat hati kita semakin hitam. Ketika kita membasuh daun telinga, maka ingatlah dengan apa yang didengar selama ini, sudahkah kita menggunakan untuk mendengar lantunan ayat suci al-Qur’an atau mendengar gosip yang tidak bermanfaat sama sekali. dan tarakhir, ketika kita membasuh kedua kaki, apakah kaki ini digunakan untuk melangkah ke masjid Allah ataukah digunakan untuk pergi ke tempat maksiat, judi dan lain sebagainya.


Dari tulisan di atas kita bisa mengatakan bahwa wudhu juga bisa menjadi jalan untuk ber-muhasabah kepada Allah SWT., karena wudhu bukan hanya isyarat sucinya badan dari hadats, tetapi juga menjadi isyarat suci hati kita dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat yang tentunya sebagai persiapan kita menuju alam pertanggung jawaban, ketika semua anggota tubuh kita ditanya satu persatu oleh pengadilanNya Allah SWT. yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana.


Oleh karena itu marilah kita berusaha dan mempraktekkan agar wudhu kita sempurna, karena wudhu adalah gerbang kebaikan dan juga pintu agar kita bisa mencapai derajat yang tinggi. Walaupun ketika udara dingin sekali, kita tetep dianjurkan untuk berwudhu, dengan cara mungkin kita bisa menggunakan air panas yang kita masak, itulah usaha kita untuk berwudhu dan Allah mengetahui apa yang kita kerjakan dan apa yang kita usahakan sehingga sempurnalah wudhu kita di sisi Allah SWT. yang Maha Melihat lagi Maha mengatahui. Wallahu ‘Alam

Selasa, 17 Juni 2008

Yuk!! Berwudhu

Islam mengajarkan pemeluknya untuk selalu hidup bersih dan juga suci, oleh karena itu Islam agama yang indah dan agama yang menyukai keindahan, ini terbukti ketika kita diperintahkan untuk melepaskan sepatu dan sendal jika masuk ke dalam masjid, ini terbukti juga ketika kita di perintahkan untuk mandi besar jika kita mempunyai hadats besar, dan yang lebih spektakuler lagi adalah Islam memerintahkan umatnya untuk berwudhu.

Berwudhu sangat banyak sekali menfaatnya, selain sebagai syarat sahnya sholat, wudhu juga sebagai penenang hati dan juga mengubur rasa marah, jika kita marah, maka wudhu lah, insya Allah marah itu akan hilang dengan kesejukan air wudhu yang mengalir disetiap anggota tubuh kita, rasakanlah bagaimana nikmatnya ketika air wudhu itu menjalar masuk ke pori-pori, yang bisa menentramkan jiwa yang sedang kalut dan resah. Wajah ini akan bersinar seolah-olah kita memakai bedak yang mahal harganya, tetapi tidak, beda sama sekali, padahal orang yang berwudhu sangat lah indah untuk dipandang dan bisa jadi aura yang keluar dari orang itu akan besar sekali, dikarenakan seringnya ia berwudhu.


Wudhu ini disebutkan didalam al-Qur’an yang mulia secara terperinci berbeda sekali dengan sholat dan zakat, yang penyebutannya tidak secara terperinci di dalam al-Qur’an, contohnya, perintah sholat, perintah sholat ini kita tidak di jelaskan secara terperinci di dalam al-Qur’an, tetapi hanya menjelaskan tentang kewajiban sholatnya saja begitu pun dengan zakat, Allah berfirman dalam surat al-Maidah ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. jadi melalui inilah kita mengetahui bahwa wudhu adalah sangat istimewa sekali tempatnya, tidak kalah dengan sholat dan zakat, oleh karena itu janganlah sia-siakan berwudhu. Lebih bagus lagi adalah kita selalu memperbaharui wudhu, walaupun kita tidak ingin melakukan sholat alangkah indahnya jika kehidupan kita selalu terjaga wudhunya, sehingga hati kita terjaga dan juga diridhoi oleh Allah amin.


Wudhu mempunyai rukun-rukun yang harus kita penuhi dalam melaksanakan ibadah berwudhu, masalah jumlahnya, para Ulama ada yang berbeda, madzhab asy-Syafi’iyah menyatakan bahwa wudhu mempunyai enam rukun, tetapi berbeda dengan kalangan madzhab al-Hanafiyah, yang menyatakan bahwa rukun wudhu mempunyai empat perkara, hal ini sesuai dengan apa yang terkandung di dalam surah al-Maidah ayat 6, jika madzhab asy-Syafi’iyah di tambahkan dengan niat dan tertib saja, sehingga berjumlah enam perkara. Selain itu jumhur al-Ulama atau mayoritas ulama menyatakan bahwa rukun wudhu ada enam perkara, sama seperti statement Imam Syafi’I, Oleh karena itu penulis menjelaskan rukun wudhu yang enam, agar semuanya bisa dijelaskan, baik kalangan Syafi’iyah maupun kelompok Hanafiyah.


01. Niat

Niat adalah sebuah ketetapan hati untuk melakukan sesuatu dan menghadirkan perbuatannya di dalam hati, sehingga ia sadar bahwa ia sedang berwudhu. Oleh karena itu niat bukanlah di lafadz kan melalui lisan, tetapi terbersit di dalam hati, lalu bagaimana dengan niat wudhu yang pernah kita temukan di buku-buku yang menjelaskan tentang niat berwudhu dengan lafal yang masyhur itu, biasanya niat ini dilakukan di saat kita mencuci kedua telapak tangan sebelum berwudhu, maka lafal ini sering kita ucapkan, tetapi itu hanyalah sebagai pengarah kita agar niat yang sebenarnya di dalam hati yang berbarengan dengan membasuh wajah bisa terlaksana, sama juga di dalam sholat yang niat sebenernya adalah ketika berbarengan dengan takbir al-ihram bukan sebelum takbir al-ihram.


Rukun yang paling pertama menurut madzhab Syafi’I adalah niat, Imam Syafi’I mengatakan di dalam kitabnya yang sangat fenomenal dan menjadi rujukan seluruh ulama yang bermadzhab Sayfi’I yaitu al-Umm, beliau menyatakan, “Tidak sah wudhunya seseorang kecuali dengan adanya niat, cukup dengan sebuah perkataan niat, saya niat berwudhu untuk menyucikan dari hadats,” selain itu juga dikarenakan niat merupakan awal dari segala perbuatan. Sedangkan menurut madzhab Hanafi, bahwa niat ini bukanlah rukun akan tetapi merupakan bagian dari sunnahnya wudhu, contohnya ketika kita masuk di kolam yang penuh dengan air (seperti kolam renang) maka sudah otomatis kita berwudhu, walaupun sebelumnya tidak ada niatan sama sekali untuk berwudhu, karena disaat kita berada di dalam air, seluruh anggota yang diwajibkan untuk berwudhu, sudah terkena basuhan air, ini menurut imam Hanafi.


02. Membasuh wajah

Maka basuhlah mukamu“, Para Ulama sepakat bahwa batasan membasuh muka adalah dengan rincian sebagai berikut:


- Bagian atas wajah, dibatasi dengan tempat tumbuhnya rambut kepala

- Bagian kanan dan kiri wajah, dibatasi oleh pentil telinga

- Bagian bawah wajah, dibatasi dengan janggut


03. Membasuh kedua tangan

tanganmu sampai dengan al-Marafiq (siku)”, sebagian orang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-Marafiq pada surat Maidah ini adalah pergelangan tangan, yaitu tulang yang menonjol di samping telapak tangan, akan tetapi yang dimaksud dengan al-Marafiq di ayat tersebut adalah siku alias sikut. Dan semua umat Islam –alhamdulillah- sudah mengetahui hal itu sehingga mewajibkan membasuh tangan hingga siku, dan bahkan ada sebagian muslim melebihkannya hingga kepundak, karena basuhan wudhu yang mengalir di bagian tubuh kita, agar terang seperti cahaya pada hari akhirat nanti. Dan yang terakhir adalah membasuh tangan kiri dahulu, setalah itu baru kemudian membasuh tangan yang sebelah kiri, secara bergantian.


04. Menyapu rambut atau kepala

“Imsahu (Sapulah) kepalamu”, lafal imsahu dalam ayat itu menuai banyak perbedaan para ulama, ada yang mengatakan lafal imsahu mempunyai makna sebagian, pendapat ini keluarkan oleh madzhab Syafi’I, berbeda dengan madzhab Maliki, yang menyatakan bahwa , lafal imsahu memiliki arti sama seperti membasuh, sehingga menurut imam Maliki pengertian menyapu rambut adalah semuanya alias seluruh rambut haruslah terkena air.


05. Membasuh kedua kaki

(basuh) kakimu sampai dengan al-Ka’bain (kedua mata kaki)”, kita mendahalukan yang kanan dan kemudian yang kiri. al-Ka’bain adalah dua tulang yang menonjol dan terletak di samping kaki yang kita kenal dengan mata kaki, berbeda dengan ulama kontemporer yang terdahulu mengartikan al-Ka’bain dengan al-‘aqib yang berarti tumit (dengkul), hal ini sama seperti prasangka sebagian orang.


06. Tertib

Imam Syafi’I menyatakan bahwa tertib atau berurutan adalah termasuk rukun wudhu, karena ingin mengikuti surat al-Maidah tersebut, berbeda dengan Imam Maliki, tertib bukanlah termasuk rukun wudhu, sehingga wudhunya tetap sah jika kita mendahulukan kaki ketimbang wajah, dan lain sebagainya.


Begitulah rukun wudhu yang wajib kita lakukan, dengan sempurnanya rukun wudhu yang kita lakukan ini maka kita bisa melakukan sholat, thawaf di Baitullah dan membaca al-Qur’an. Oleh karena itu sempurnakanlah wudhu kita, dengan memperhatikan betul apa yang dirukunkan dalam berwudhu, jangan sampai kita menyepelekannya sehingga ada rukun wudhu yang kurang sempurna pada akhirnya rusaklah wudhu kita dan tidak sah lah sholat kita.


Penulis juga ingin menyebutkan beberapa sunnahnya berwudhu agar lebih sempurna dan afdhol-nya wudhu kita, sunnah wudhu ada 10 perkara, yaitu:


01. Membaca bismillah di awal sebelum memulai wudhu


02. Membasuh dua telapak tangan dengan cara menggosok-gosokkannya


03. Menyela-nyelai di antara jari-jari baik jari kaki maupun jari tangan


04. Berkumur-kumur, menyedot air dengan hidung, dan mengeluarkan air dengan hidung, tiga kali berturut-turut, sedangkan bagi orang yang berpuasa boleh melakukan hal itu tetapi jangan sampai berlebihan, dikarenakan akan membatalkan wudhu.


05. Membasuh wajah tiga kali dengan cara menggosok-gosokkannya


06. Menyela-nyelai jenggot, jika kita orang yang berjenggot tebal


07. Membasuh kedua tangan hingga siku tiga kali dengan cara menggosok-gosokannya, dan juga membasuh lengan atas.


08. Menyerapkan air ke pori-pori kepala ketika menyapuh kepala


09. Menyapu kedua daun telinga tiga kali


10. Membasuh kedua kaki hingga lutut tiga kali dengan cara menggosok-gosokkannya, serta juga membasuh betis.


Demikian lah penjelasan dari penulis, semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua, amin


----------------------------

Oleh: Ibnu Saduki al-Bekasi (Kitab Mashadir: “ al-Kalim al-Thayyib fatawa ‘Isyriyyah” karya Prof. DR. Ali Jum’ah [Mufti Mesir])

Template by - Abdul Munir - 2008