.::Selamat Datang di Situs Kami , Semoga Website Kami ini Memberikan Pencerahan kepada Sahabat-Sahabat Mengenai Agama Kita yang Tercinta, Selamat Menikmati Hidangan Kami, dan Mohon Doanya ya Agar wAbsite Kami Tetap Eksis!! Amin::.
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2009

Cinta Perempuan Paling Cantik

Dia adalah perempuan paling cantik yang pernah saya kenal. Kulitnya putih, wajahnya bersih seperti bayi, kecantikannya lengkap. Dia adalah perempuan terindah yang pernah saya temui. Kecantikan yang tidak pudar, meski usianya mencapai empat puluh lima.

Dua puluh lima tahun yang lalu, perempuan itu mengejutkan semua orang dengan pernikahan yang tiba-tiba. Tidak ada yang menyangka cinta kanak-kanak sang perempuan akan bermuara selamanya, kepada lelaki yang sama.

Pernikahan yang indah. Lelaki yang beruntung. Begitulah barangkali pikiran kebanyakan orang. Sebab dengan kecantikan sang perempuan, akan sulit menemukan lelaki yang benar-benar layak bersanding dengannya. Secara panampilan tentu saja.

Waktu bergulir. Selama itu tidak pernah sekalipun terdengar berita tidak sedap dari pasangan, yang kini sudah dikaruniai dua orang anak. Semua takjub dengan keutuhan rumah tangga keduanya. Pertama, karena dibina ketika mereka masih sangat muda, kedua mengingat kesibukan sang istri yang kini menjadi dosen dan kerap memberi materi seminar. Seringnya berada di depan publik tanpa suami, yang diduga akan menimbulkan jarak diantara suami istri itu, sama sekali tidak terbukti.

Sesekali mereka tampil berdua. Dan siapapun akan mengagumi rumah tangga keduanya. Cukup banyak lelaki yang meski hanya bercanda, sempat mengungkapkan keirian terhadap nasib baik si suami.

“Istri cantik, rumah besar, anak-anak lucu. Komplit!”

Lainnya mengomentari, “Kalau punya istri secantik itu, saya gak bakal kemana-mana. Keluar rumah juga males deh!”

Sebagai perempuan yang hanya melihat semua dari luar, saya pribadi mengagumi kemampuan sang istri memenej rumah tangganya. Mengagumi betapapun kesibukannya menggunung, perempuan itu tak pernah menelantarkan keluarganya. Suami dan anak-anak senantiasa nomor satu.

Kekaguman saya yang lain adalah terhadap kemampuan si perempuan mengurus dirinya. Kecantikannya tidak pernah berkurang, malah semakin bercahaya seiring umur yang bertambah.

Dalam balutan kerudung, dan kemana-mana nyaris tanpa make-up, keindahannya semakin memesona. Saya salut dengan kemampuannya menjaga diri dan menepis gosip tentang rumah tangga mereka.

Ketika kemudian sang suami mulai sakit-sakitan , sang istri dengan cepat mengambil alih tanggung jawab ekonomi keluarga. Mulai dari kebutuhan sahari-hari hingga biaya sekolah anak-anak, bahkan ongkos pengobatan sang suami yang menghabiskan dana dalam jumlah besar.

Adakah kesombongan di wajah cantiknya?

Demi Allah, saya tidak pernah melihat hal itu tebersit sedikit saja di wajahnya yang indah.

Sosok cantik itu tetap santun dan tak banyak bicara. Meladeni suami dan anak-anak seperti hari-hari sebelumnya. Menunaikan tugas-tugasnya di depan publik tanpa keluh kesah sama sekali. Tanpa ungkapan rasa letih, karena sang suami yang lima tahun terakhir ini nyaris tak mampu bekerja untuk keluarga, disebabkan penyakit yang dideritanya.

Batin saya, pastilah lelaki itu demikian baik dan bakti kepada keluarga, hingga istrinya mencintai dan membela keluarga mereka sedemikian rupa.

Tapi kalimat yang suatu hari saya dengar dari famili perempuan terindah itu, mengguncangkan hati saya.

“Kalau saja semua orang tahu, kasihan kakak itu. Suaminya seringkali main perempuan di belakang dia. Dari mulai pertama nikah. Tingkahnya benar-benar bikin makan hati. Keluarga besar sempat menyuruh cerai, tapi sang kakak memang luar biasa sabar!”

Hati saya berdetak.

Allah, jika itu benar. Berkatilah perempuan yang setia itu ya Allah.

Perempuan yang telah menjaga kehormatan suaminya, bahkan di atas begitu banyak luka, yang telah ditorehkan lelaki itu padanya.

Saya pribadi tidak tahu kebenaran berita itu. Sebab saya tak berani menanggapi. Hanya saja saya tiba-tiba mulai menikmati, tak hanya kecantikan dan keindahan luar yang Allah karuniakan kepadanya. Tapi juga sekeping hati yang luar biasa cantiknya.

(Asma Nadia)
di Posting oleh: Ekaristi Pratiwi

Rabu, 04 Februari 2009

Kalau Saya Jatuh Cinta Lagi

Santai, santun meski ceplas ceplos. Begitulah kesan saya tentang Pak Haris. Pimpinan sebuah penerbitan di Solo yang saya temui dalam satu kesempatan.


Saya lupa bagaimana awalnya hingga Pak Haris menyinggung poligami. Kebetulan saya tertarik dengan persoalan ini, dan sedang menulis sebuah novel bertema poligami yang penggarapannya sangat menyita energi.


Saya ingin mendalami pikiran laki-laki. Sebenarnya apa yang ada di kepala mereka ketika menikah lagi? Awalnya saya kira seperti lelaki lain, Pak Haris akan mengelak atau memberi jawaban ala kadar. Ternyata…


“Sejujurnya Mbak Asma, hanya ada satu alasan inti kenapa laki-laki menikah lagi.”


Saya dan seorang teman saat itu langsung menyimak baik-baik.


“Dan itu bukan karena menolong, bukan karena kasihan, atau alasan lain. Saya lelaki. Dan kalau saya menikah lagi itu murni karena saya suka dengan gadis itu. Saya jatuh cinta. Titik.”


Wah, jujur sekali. Pikir saya salut.


Dialog yang berawal di rumah makan berlanjut ke dalam mobil. Saya dan teman memang bekerja di penerbitan yang dikelola Pak Haris kemudian mengunjungi penerbitan beliau. Saya diperkenalkan kepada beberapa pegawai dan juga produk-produk mereka.


Di sofa tamu, obrolan berlanjut lagi.


“Sebenarnya Ramadhan kemarin saya tergoda sekali untuk menikah lagi. Sungguh keinginan itu dating begitu dahsyatnya.”


“Padahal Ramadhan ya, Pak?”


Lelaki itu tertawa, mengiyakan.


“Dan saya kira saya hamper saja berpoligami, kalau saja saya tidak bertemu seorang teman. Ikhwan yang memberi satu pertanyaan yang luar biasa benardan akhirnya berhasil mengubah niat saya.”


Dalam hati saya menebak-nebak kemana penjelasan Pak Haris selanjutnya.


“Ikhwan itu berkata begini, Mbak Asma… Jika saya menikah lagi: Pertama, kebahagiaan dengan istri kedua belum tentu… karena tidak ada jaminan untuk itu. Apa yang diluar keliatan bagus, dalamnya belum tentu. Hubungan sebelum pernikahan yang sepertinya indah, belum tentu akan terealisasi indah. Dan sudah banyak kejadian seperti itu.”


Benar sekali, komen saya dalam hati.


“Yang kedua, Pak?”


Lelaki itu terdiam, lalu menatap saya dengan pandangan serius.


“Sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan itu akan abadi.”


Saya melihat Pak Haris menarik napas panjang, sebelum menuntaskan kalimatnya,


“Sekarang, bagaimana saya melakukan sebuah tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil resiko yang kerusakannya pasti dan permanen?”


Dialog di atas terjadi bertahun-tahun lalu. Saya tidak tahu bagaimana kabar Pak Haris sekarang, apakah masih berpegang pada masukan si ikhwan itu atau tidak.


Saya sendiri menerima aturan poligami yang memang ada dalam Qur’an, tetapi cenderung menyetujui pendapat seorang ustadz muda yang mengatakan asal syari’at poligami pada dasarnya adalah monogamy. Artinya dalam keadaan normal, monogamy tetap lebih utama.


Betapa pun, sungguh saya iri terhadap para istri yang sanggup mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Hal yang tentu teramat sulit. Bagaimana bisa berbagi pasangan hati yang selama bertahun-tahun hanya menumpukan perhatian pada kita sebagai satu-satunya istri?


Rasa iri tadi sering ditambah dengan kesedihan yang luar biasa, saat menyadari betapa mudahnya lelaki kemudian melalaikan tanggung jawab bahkan sampai menelantarkan istri pertama dan anak-anaknya.


Untuk kebahagiaan yang belum pasti?


Teringat seorang teman asal Malaysia yang saya temui di Seoul. Lelaki yang dengan lantang menerangkan statusnya, ketika ditanyakan berapa anak yang Allah telah karuniakan kepadanya,


“Dari istri pertama ada tiga. Dari istri kedua belum ada…”


Barangkali karena merasa bertemu dengan muslim di negeri yang sebagian besar penduduknya non muslim itu, hingga dia menjadi terbuka kepada saya. Apalagi setelah saya katakana bahwa saya seorang penulis.


Pernikahan kedua itu tidak pernah direncanakan.


“Ini takdir,” katanya, “Saya tidak pernah sengaja mencari istri lain.”


Saya diam saja. Tidak hendak berdebat soal itu.


Hanya setelah saya tanyakan kerepotan memiliki dua istri ceritanya semakin menarik. Terakhir saya tanyakan apakah dia merasa lebih bahagia setelah menikah lagi?


Mendengar pertanyaan saya, lelaki bertubuh tinggi itu tampak termenung cukup lama sebelum menjawab,


“Yang sudah terjadi, tidak bolehlah kita sesali.”


Menatap senyum getir lelaki itu, seketika ingatan saya terlempar pada kalimat terakhir Pak Haris, beberapa tahun lalu.

(Asma Nadia)
----
di posting oleh: Ekaristi Pratiwi

Kamis, 11 Desember 2008

Ibu Berikanlah Sebuah Senyuman Untuk Ku

Beliaulah yang membesarkan kita ketika kita masih seberat 4 kilogram, beliaulah yang melahirkan kita ketika kita masih di alam kandungan, beliaulah yang merawat kita ketika kita belum sanggup berbuat apa-apa, beliaulah yang mensekolahkan kita dari Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi sehingga kita menjadi orang yang pintar karenanya, beliaulah yang mendidik kita ketika berjalanpun belum mampu kita lakukan, beliaulah yang menyayangi kita ketika sayangnyalah yang sangat dibutuhkan oleh pertumbuhan kita, beliaulah yang mencintai kita yang cintanya sungguh indah dan dahsyatnya yang akan menentramkan batin dan menenangkan jiwa kita, dan beliaulah-beliaulah sebagainya.

Mungkin perkataan-perkataan di atas yang ingin mencoba menguak kehebatan seoarang ibu, betapa ibu sungguh sangat istimewanya bagi kita, tetapi itu semua sama sekali tidak terlalu muluk-muluk untuk menggambarkan seorang yang cukup fenomenal dalam kehidupan kita, yaitu seorang yang sungguh dengan segala perasaan dan tanggung jawab dalam merawat serta membesarkan kita sehingga kita menjadi orang yang dewasa lagi kuat, bahkan perkataan itu sungguh bagaikan sebutir debu di padang pasir yang sangat luas. Mungkin hanya keterbatasan kata-kata kita lah yang belum mampu menggambarkan kasih sayangnya kepada kita.


Kata Ibu walaupun hanya terdiri dari tiga huruf ini tetapi dapat mengguncangkan dunia, oleh karena itu jika orang yang dapat mendalaminya akan menjadi luluh hatinya, contohnya saja orang yang sebelumnya kejam dan bengis akan mengeluarkan air mata dengan sendirinya, dikarenakan kehebatan kata ibu, dan kefenomenalan kata ibu. Tanyakan lah kepada orang yang sudah tidak mempunyai ibu, tanyakan lah kepada orang yang belum melihat wajah ibu, dan tanyakan lah kepada orang yang tinggal di panti asuhan yang belum sempat sama sekali bertemu ibu, maka mereka akan menjawab dengan serempaknya, “Ohh… Ibu aku rindu padamu”


Ketika mendengarkan jawaban itu hati akan bergetar dan perasaan ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Semua orang akan menangis tanpa terkecuali bila ia benar-benar menyelam di samudra kasih sayang ibu, mulai dari presiden hingga pembantu rumah tangga, mulai dari Ulama hingga santri, mulai dari bayi hingga kakek-kakek, mereka menangis karena belum mampu bahkan tidak akan pernah mampu untuk membalas segala kebaikan yang pernah dilakukan oleh orang yang sangat fenomenal ini, kekhilafan pun menyelimuti diri, dan ingin rasanya sekarang segera beranjak dari tempat duduk untuk segara menemui ibu dan langsung memeluknya dengan penuh perasaan dan terima kasih, lalu akan terikrar di hati ini sebuah janji untuk selalu taat kepadanya.


Adakah kita mengetahui, saat kita kecil sering sekali me-ngompol dan buang air besar sesuka hati ketika ibu sedang makan, adakah ia jijik untuk membersihkannya, adakah ia menunda membersihkannya setelah makan selesai, dan adakah ia mengeluh barang sedikitpun kepada kita sewaktu kita kecil. Tetapi yang terjadi sebuah senyuman yang mengembang dari kedua bibirnya, sebuah hati yang riang melihat anaknya sehat, dan sebuah perasaan yang sungguh indah sekali hingga sulit sekali untuk melukiskan bagaimana hebatnya cintanya kepada kita, bahkan pelukis yang paling hebat di dunia pun tidak bisa melukiskan kehebatan seorang ibu walaupun setetes tinta.


Namun sayangnya, apa yang terjadi ketika anak itu besar dan sudah bisa mandiri, ia lebih mementingkan diri sendiri, tanpa melihat ibu yang sudah tua termakan umur. Ia lebih memilih untuk bersenang-senang, ketika ibu terserang penyakit. Dan bahkan konyol-nya ia lebih memikirkan nasibnya yang serba mewah ketimbang barang sejenak saja menengok ibu yang sedang terbaring di rumah sakit. Apakah ini balasan anak yang shalih dan shalihah?, apakah ini balasan anak yang baik dan anak yang berbakti?, dan apakah ini balasan anak jutawan dan anak milyader?, tidak sama sekali, anak seperti ini harusnya sudah dipecat dari kantor dunia, anak yang seperti ini seharusnya tidak dikeluarkan dari rahim ibu, dan anak seperti ini sudah seharusnya tidak mengenal ibu.


Apakah kita mengetahui, bahwa kebahagiaan ibu terhadap anaknya adalah ketika melihat anaknya sukses dalam berbagai bidang tetapi tidak melupakannya. Ketika melihat anaknya se-abrek prestasi yang didapatkan tetapi ia mengucapakan terima kasih kepda ibu. Dan ketika melihat anaknya bahagia dikehidupan barunya tetapi ia tidak meninggalkan ibunya. Seoarang ibu tidak mengharapkan secuil harta anaknya sedikitpun, seoarang ibu tidak mengharapkan apa-apa dari anaknya, lalu sebagai anaknya apakah ia berat menanggung kebahagiaan-kebahagiaan ibu yang di atas? dan sebagai anaknya apakah ia berat melaksanakan demi kebahagiaan ibu? Wahai manusia bandingkanlah dengan apa yang telah ibu lakukan untuk kita, maka akan terkuak lah fenomena bahwa kita termasuk orang-orang yang durhaka, Na’udzubillah.


Sudah seharusnyalah kita berbakti dan mengabdi kepada ibu yang telah membesarkan kita dengan penuh rasa semangat, dengan penuh keikhlasan dan penuh dengan kasih sayang. Jangan sekali-kali muncul dalam benak untuk mengeluh dan jangan sekali-kali terucap di pikiran kita kata-kata repot. Berbakti dengan tidak berbuat durhaka dengannya, menjauhkan apa yang tidak baik kita berikan kepada ibu, dan membuktikan kepada ibu bahwa kita adalah anak yang shalih, rajin dan juga berprestasi, sehingga simpanlah ungkapan ini di dalam qalbu setiap jiwa “IBU BERIKANLAH SEBUAH SENYUMAN UNTUKKU” Wallahu ‘Alam

Jumat, 13 Juni 2008

Makhluk Allah yang Bernama Cinta

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar Ruum: 21)

Maha Besar dan Maha benar Allah SWT. atas segala firman-Nya, dari ayat di atas tergambarlah kepada kita bahwa Allah SWT. menciptakan manusia saling berpasangan yaitu pria dan wanita. Dualisme yang berbeda ini bisa saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya, wanita bisa melengkapi pria, dan begitupun sebaliknya pria dapat melengkapi wanita, sehingga kedua-duanya bisa saling berinteraksi, saling menolong, saling memberi, dan saling mengenal tentunya.


Kemudian Allah SWT. sungguh-sungguh menjadikan dunia ini begitu indah dan menawan, dikarenakan Allah SWT. menciptakan makhluk-Nya bernama “cinta” yang pada ayat diatas Allah SWT. menggambarkan cinta sebagai “rasa kasih dan sayang”, karena rasa kasih dan sayang inilah yang terangkum dalam satu kata yaitu kata cinta. Di dalam hati setiap manusia baik pria maupun wanita terdapat cinta, sehingga dengan cinta akan terciptalah kedamain dan ketentraman di antara sesama manusia, yang pada akhirnya timbullah keindahan dan kenikmatan di dunia ini. coba bayangkan oleh kita semua jika saja Allah SWT. tidak menciptakan cinta, mungkin dunia ini akan menjadi radikal dan keras, karena antara sesama manusia saling mencelakai, ingin menang sendiri, tidak ada rasa kasih sayang dan sebagainya.


Allah SWT. menciptakan makhluk yang bernama cinta ini sungguh luar biasa sekali, makhluk yang satu ini memberikan berbagai rasa dalam mengarungi kehidupan manusia, dengan cinta manusia bisa cemburu, yaitu cemburu ketika yang dicintainya diduakan, cemburu ketika yang dicintainya disakiti, dan cemburu ketika yang dicintainya dilecehkan. Dan dengan cinta manusia juga bisa rindu, yaitu rindu ketika lama tak berjumpa dengan yang dicintainya, rindu ketika lama tidak mencahkan hati dengan yang dicintainya, dan rindu ketika lama tidak mendekat dengannya.


Cinta adalah rahmat dari Allah SWT. dan sebuah pemberian dari Allah SWT. yang khusus bagi seluruh makhluknya, bukan hanya manusia saja yang diberikan cinta didalam hatinya, tetapi juga makhluk yang lain, seperti hewan yang mencintai anak-anaknya untuk selalu memberi makan disaat anak-anaknya lapar, tumbuhan mencintai alam sehingga akan terjalinlah hubungan harmonis keduanya yang akan mengakibatkan alam ini seimbang dan teratur, bahkan malaikatpun diberikan cinta oleh Allah SWT., sehingga malaikat tinduk dan patuh tanpa sedikitpun membantah kepada Allah SWT.. Sungguh besar karunia Allah SWT. berupa cinta kepada seluruh makhluk-makhluk-Nya ini.


Oleh karena cinta adalah rahmat dari Allah SWT., maka sudah selayaknyalah kita menjaganya, jangan sampai hilang, jangan sampai lenyap, atau bahkan jangan sampai dinodai oleh diri kita, hilang dikarenakan kesombongan kita, lenyap dikarenakan kedengkian kita, dan ternodai dikarenakan hawa nafsu yang membuncah di dalam hati kita.


Fenomena hilangnya cinta telah kita lihat di zaman sekarang ini, kekerasaan dimana-mana, perang terjadi disebagian belahan dunia, hingga kekafiran yang melawati bataspun ada di zaman sekarang. Apakah kaum manusia akan kembali kepada zaman jahiliyah, dimana banyak orang yang berilmu tetapi sebenarnya ia jahil dengan ilmunya, sehingga yang terjadi ilmunya hanyalah untuk menjual diri sendiri atau bahkan untuk mengelabui orang yang bodoh. Hal ini senada dengan zaman sekarang, banyak manusia yang pintar tapi sayang kepintarannya untuk korupsi, untuk melecehkan orang lain bahkan untuk membodohi orang yang tidak tahu menahu apa-apa. Banyak pula manusia menemukan kecanggihan teknologi pada saat ini tetapi sayang kecanggihan teknologi itu bukannya menambah kemudahan kita untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, tapi malah sebaliknya sebagai sarana untuk menjauh dari Allah SWT. sadarkan kita akan hal itu semua?.


Fenomena itu terjadi karena keseluruhan hati kita dikuasai oleh nafsu, layaknya peperangan antara palestina dan israel, nafsu adalah sebagai israel, pelestina adalah sebagai hati, dan sedangkan Islam adalah sebagai cinta. Ketika hati kita dikuasai oleh cinta maka yang terjadi adalah kedamaian di seluruh tubuh kita, tetapi sebaliknya jika nafsu yang meguasai wilayah hati maka akan terjadi kegelisahan dan kegelapan yang memberatkan tubuh kita. Oleh karena itu kita harus terus menerus berjuang mengamankan wilayah hati agar jangan sampai kalah dan terjajah dengan zionis-nafsu, karena ia akan merusakan hati kita, menggelapkan hati kita dan mengeraskan hati kita, sehingga hati kita tidak mengeluarkan sinar lagi, redup tanpa berbekas, layaknya sebuah lilin yang mati ditengah kegelapan malam, hitam dan suram.


Kadang cinta menjadi kambing hitam oleh zionis-nafsu, ia selalu berkata atas nama cinta, melakukan kemaksiatan atas nama cinta, melakukan pembunuhan atas nama cinta, atau bahkan menodai kehormatan orang lain atas nama cinta, semuanya atas nama cinta, inilah fitnah dari zionis-nafsu agar sesuatu yang buruk itu dibungkus selalu oleh kata yang indah yaitu kata cinta, padahal jika sudah dibuka bungkusannya, maka akan terlihat bagaimana kekejamnya dan kebringasnya zionis-nafsu melakukan itu semua.


Jadi bukalah mata hati kita selebar-lebarnya pada saat terjadi peperangan antara cinta dan zionis-nafsu didalam hati kita untuk selalu istiqomah berada dipihak cinta dan mendukung cinta, agar cinta memenangi peperangan antara zionis-nafsu, yang akhirnya timbullah kedamaian di dalam hati dan jiwa. Dan perlu diingat oleh kita, bahwa cinta tidak akan membunuh nafsu yang baik, seperti nafsu belajar, nafsu ibadah dan nafsu yang baik lainnya, tetapi cinta akan membunuh nafsu buruk, nafsu jahat dan nafsu yang ingin memekatkan hati kita untuk terjerumus kedalam jurang yang dalam sehingga cahaya matahari tak sampai lagi kepada kita. Wallahu ‘alam.

Senin, 09 Juni 2008

Cinta yang Buta vs Cinta yang Melihat

Rasa cinta di dalam hati kadang kala membuat kita lupa akan segala hal yang ada dikenyataan kita, kadang pula kita memaknai cinta sebagai hal yang lumrah dan wajar bagi kita. Tetapi pada hakikatnya cinta adalah rahmat dari Allah SWT. dan merupakan salah satu nikmat-Nya yang paling besar bagi diri kita sebagai seorang hamba Allah SWT. oleh karena itu jagalah cinta, jangan sekali-kali engkau nodai cinta yang suci ini wahai Bani Adam. Dan jagalah ia jangan sampai hilang di telan oleh lumpur hidup yang siap menelan kapan saja.

Rasa cinta ada pada hati setiap manusia, hewan, bahkan tumbuhan sekali pun. Seandainya makhluk Allah SWT. selain Bani Adam bisa berbicara mungkin ia akan berkata “Aku mencintaimu”, kata cinta ini sungguh sangat fenomenal dan luar biasa efeknya. Dengan kata cinta orang bisa menangis, dengan kata cinta orang bisa bahagia, bahkan karena cinta nyawa pun hilang.


Ketika rasa cinta meresap ke dalam hati yang masuk melalui pori-pori tubuh sehingga buluk kuduk pun berdiri tegak, dikarenakan hebatnya perkataan cinta maka kita pun akan terperana dengan kehebatan kata cinta itu. Itulah fenomena yang terjadi ketike seoarang jatuh cinta.


Orang yang sedang bercinta akan merasakan indahnya dunia ini, sehingga ada jargon “dunia hanya milik berdua”, kata-kata ini mungkin bisa dikatakan lucu bagi sebagian orang, karena kata ini mustahil terjadi, tetapi bagi orang yang sedang jatuh cinta maka semuanya bisa terjadi walaupun pada hakikatnya tidak akan terjadi. Hal ini berkaitan langsung dengan jargon “cinta itu buta” kata ini di satu sisi mendukung adanya kata “dunia hanya milik berdua” tapi di sisi yang lain perkataan “cinta itu buta” sebuah ungkapan yang mengarah negatif, artinya kenapa dia mengatakan dunia milik kita berdua? karena dia buta, tetapi buta di sini dalam tanda kutip yaitu buta karena cinta yang semu.


Lalu cinta apakah yang dapat melihat tetapi dunia milik kita bersama? Jawabannya mahabbah fillah (cinta karena Allah).


Inilah konsep cinta yang sesungguhnya, inilah konsep cinta yang kekal, inilah konsep cinta yang abadi, dan inilah konsep yang akan menolong kita dari kengerian hari kiamat. Karena mahabbah fillah adalah salah satu tanda orang yang mendapatkan naungan pada hari kiamat ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah.


Oleh karena itu, kita mencintai sesuatu apapun baik kekasih, guru, sahabat, teman, orang tua, hewan peliharaan dan lain sebagainya hendaknya dikarenakan Allah SWT, agar cinta kita itu di nilai ibadah. Bukan kah niat itu sangat berpengaruh dalam perbuatan kita apalagi kita sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah SWT. untuk beribadah oleh karena itu agar semuanya ibadah diniatkan kerena Allah SWT. inilah yang di sebut dengan mahabbah fillah (cinta karena Allah)


Jikalau cinta sudah di rasuki oleh kata “karena Allah” maka sungguh nikmat dan begitu syahdunya. Apalagi cinta ini dimaksudkan mencintai makhluk Allah SWT. yang sudah barang tentu fana yang tidak kekal, maka kita pun akan berpisah dengan sesuatu yang kita cintai itu karena ada sebuah perkataan “ada pertemuan dan pasti ada perpisahan”, tetapi bagi orang yang sudah di rasuki oleh kata “karena Allah” maka ia tidak akan kecewa dan tidak akan menyesal yang berlarut. Cinta yang dikarenakan Allah SWT. akan memegang prinsip “cintailah kekasihmu jangan berlebihan” karena cinta yang hakiki dan yang sebenarnya adalah cinta kepada penciptanya.


Apalagi di tambah dengan kata-kata “dunia milik bersama” , sungguh indahnya muslim, kita di perintahkan untuk saling menasihati dan saling mengingatkan, karena dunia ini milik kita bersama yang menjadi sarana mengumpulkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang jauh, lebih jauh lagi dari pada perjalanan dari bumi ke planet pluto. Bersyukurlah wahai Muslim dan Muslimah.


Marilah untuk merubah konsepsi kita dari cinta buta yang milik berdua kepada cinta yang melihat yang milik bersama, karena alangkah indahnya saat hati ini melihat dan mengajak bersama-sama untuk menuju surga-Nya Allah SWT. yang kekal dan Abadi.

Template by - Abdul Munir - 2008