.::Selamat Datang di Situs Kami , Semoga Website Kami ini Memberikan Pencerahan kepada Sahabat-Sahabat Mengenai Agama Kita yang Tercinta, Selamat Menikmati Hidangan Kami, dan Mohon Doanya ya Agar wAbsite Kami Tetap Eksis!! Amin::.
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2009

IKPM adakan Dialog Peradaban Islam

Sebuah peradaban sangat erat sekali hubungannya dengan perkembangan pemikiran manusia, semakin maju peradaban itu, semakin maju pula pola pemikiran manusia. Lalu bagaimanakah pemikiran dan peradaban yang berkembang pada zaman sekarang ini, yang selalu dikaitkan dengan teknologi serba canggih dan instan?

Berangkat dari analisis itu, IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) Gontor membuat terobosan yang begitu berani, dengan menggelar dialog umum CIOS (Center For Islamic and Occidental Studies) dalam naungan Institute Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor. Berani, karena CIOS ini menggali, mempelajari, dan mengkritisi peradaban Barat tanpa terpengaruh oleh peradaban tersebut. Acara ini dilangsungkan di Aula Shalah Kamil pada hari Rabu, 18 Februari lalu.

Acara yang dijadwalkan akan berlangsung sekitar 15:00 terpaksa harus ditunda, dikarenakan berbagai kendala, sehingga acara pun baru berjalan pukul 17:00. setelah dibuka dan diresmikan oleh Duta Besar Indonesia di Mesir, Bapak Abdurrahman Muhammad Fachir, dimulailah sesi dialog CIOS yang pertama kali diadakan di kalangan Masisir ini.

Materi dipersentasikan oleh dua pakar CIOS. Presentator pertama adalah Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, seorang pakar dan peneliti CIOS dalam bidang pemikiran Islam yang kali ini mengantarkan kajian “Ilmu Kalam dalam Ranah Pemikiran Islam”. Sedangkan pemateri kedua, Dr. Dihyatun Masqon, seorang pakar dan peneliti CIOS dalam bidang peradaban Islam dan Barat, membawakan tema “Peradaban Islam vis a vis Peradaban Barat”. Sutrisno Hadi yang dipercaya sebagai moderator pun membawa dialog umum ini dengan optimal.

Dr. Amal Fathullah Zarkasyi menjelaskan bahwa ilmu Kalam adalah ilmu yang bertujuan untuk menguatkan keyakinan seseorang terhadap Islam dan membantah orang-orang yang ingin menghancurkan Islam. Ilmu Kalam merupakan satu dari empat ilmu pemikiran Islam yang berkembang saat ini, tiga lainnya adalah ilmu Tasawuf, Ushul Fikih, dan Filsafat. Alumnus Universitas Kairo jurusan Darul Ulum ini melanjutkan, “Untuk membangun peradaban Islam yang kokoh lagi kuat, dibutuhkan orang-orang yang dapat menguasai konsep Islam secara menyeluruh. Baik dalam bidang filsafat maupun fikih, untuk kemudian menggali dan mengkritisi filsafat Barat serta mendialogkannya dengan asas pandangan hidup Islam. Jika ditelusuri, Islam adalah agama yang hebat dan agama yang kuat, karena Islam bertumpu kepada nash-nash yang terjaga kesuciannya dan digabungkan dengan akal yang sehat. Sedangakan Barat lebih mengacu materialisme dan rasionalisme murni.

Presentator kedua, Dr. Dihyatun Masqan, menjelaskan betapa pentingnya penguasaan bahasa Arab sebagai sandaran kuat dan pegangan untuk menelusuri khazanah-khazanah Islam yang kuat. Beliau juga menyatakan bahwa Islam dibangun dengan dua tumpuan fundamental; asas spiritual (akhirat) dan asas materialisme (dunia). Kedua prinsip ini saling mengisi dan menyokong. Sedangkan Barat hanyalah bertumpu kepada asas materialisme (dunia). Beliau bersandar kepada sebuah ayat al-Qur`an dalam surat al-Anbiya ayat 107 yang artinya “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”, dari firman Allah tersebut sudah jelaslah bahwa Islam bukan hanya milik Islam saja, namun milik seluruh alam serta penghuninya, sedangkan Barat hanyalah untuk dirinya sendiri.

Acara pun berakhir pada pukul 20:30 dengan tempuk tangan yang membahana dari ratusan peserta yang hadir. Mereka mendapatkan ilmu yang luar biasa pada malam hari ini, dan yakin bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang hebat dan menakjubkan

Sabtu, 21 Februari 2009

Nasib Mahasiswa Baru Al-Azhar Mulai Cerah

Sudah hampir memasuki empat bulan terakhir ini, Mahasiswa Baru (MABA) belum juga tiba. Entah apa yang terjadi, namun isu dan gosip merebak di Masisir. sebagian menuduh keterlambatan ini terkait dengan tragedi Gazza, yang lain meyakininya sebagai dampak dari kebijakan Lokakarya. Rasa ingin tahu dan penasaran pun menjangkiti seluruh Masisir, "Ada apa di balik keterlambatan MABA tersebut?"

Berangkat dari penasaran Masisir inilah, Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir mengadakan “Cangkir Wisma” (Rancang Pikir Wacana dan Isi Hati Mahasiswa) dengan tema “Restruksi dan Solusi Problematika MABA” pada hari Minggu, 15 Februari 2009 lalu di Wisma Nusantara.

Acara ini bertujuan untuk memberikan informasi yang tepat kepada seluruh Masisir tentang keterlambatan MABA. “Acara ini kita orientasikan untuk menguraikan benang kusut dan mencari solusi dari problematika MABA. Sepulang Cangkir Wisma, diharapkan Masisir memilki satu gambaran, tidak ada dugaan aneh-aneh berkaitan dengan keterlambatan MABA”, tutur Firman Hanafi ketika menyampaikan sambutan Ketua Panitia.

Presiden PPMI, Abdullah Yazid Dzf yang menjadi salah satu nara sumber menyampaikan kronologi kasus yang sedang hangat ini. Menurut beliau, ada dua penyebab utama keterlambatan MABA tahun ini; kesalahpahaman Depag dengan Kedubes Mesir di Indonesia, dan kesulitan administrasi Muwafaqat al-Qaumi. Sebenarnya, penyebab yang terakhir ini cukup membuat Depag kelabakan karena hanya kepada pendatang dari Indonesialah surat ini diwajibkan.

Para narasumber dalam Cangkir Wisma dirancang serepresentatif mungkin oleh panitia. Selain dari PPMI yang diwakili oleh Abdullah Yazid, ada juga Cecep Taufiqurrahman, S.Ag. selaku tokoh Masisir, M. Abdullah al-Amiri yang merupakan salah satu mediator MABA, dan Andri Aziz Putra sebagai perwakilan Komite Pelaksana Penerimaan Mahasiswa Baru (KPP-MABA).

Dalam orasinya, Cecep Taufiqurrahman S.Ag., sempat memaparkan bagaimana dulu ia mengalami kejadian serupa. Keberangkatan Cecep ke Mesir kala itu memang sedikit terlambat. Masalahnya pun tidak jauh beda dengan tahun ini; adanya perseteruan Depag-Kedubes. Namun seperti diakui Cecep, kuantitas keterlambatan tahun ini memang jauh lebih tinggi.

Sebenarnya, kegoncangan relasi antara Kedubes Mesir dengan Depag berawal dari perseteruan kecil perihal ujian pemberangkatan. Masing-masing lembaga merasa lebih berhak mengadakan ujian ini. Akhirnya selama beberapa tahun, keduanya memilih untuk mengadakan ujian sendiri-sendiri.

Keberadaan dua ujian yang dilakukan oleh dua lembaga untuk satu keperluan ini acap kali menimbulkan masalah. Selain di masa Cecep, pada tahun 2004 masalah serupa juga terjadi. Berangkat dari berbagai pengalaman ini, KBRI ingin membuat MoU dengan Universitas al-Azhar. MoU yang rencananya akan ditandatangani tahun 2009 ini menyatakan bahwa yang berhak menguji mahasiswa adalah pihak Universitas al-Azhar.

Lain halnya dengan Andri Aziz Putra selaku ketua KPP-MABA. Ia tidak masuk dan membahas masalah MABA secara mendalam. Satu hal yang ia tekankan, bahwa KPP-MABA lepas urusan dengan masalah ini. “Peran dan fungsi KPP-MABA di sini adalah sebagai garis koordinasi MABA dengan mediator, bukan menjadi mediator itu sendiri”, pungkasnya.

Kabar baik disampaikan oleh M. Abdullah al-Amiri sebagai perwakilan mediator MABA. Anggota travel al-Misry ini menjelaskan, “Alhamdulillah 290 visa sudah di tangan para mediator. Beberapa visa lain sebenarnya sudah ada yang diturunkan Kedubes Mesir, namun ada yang masih belum diambil oleh mediator lantaran tidak mengetahui perihal keluarnya visa tersebut. Kita berdoa saja semoga, walaupun terlambat, adik-adik kita tetap memeperoleh kesempatan menuntut ilmu di Negeri Kinanah.”

Cangkir Wisma ditutup oleh Wakil Presiden PPMI, Heri Nuryadi selaku moderator tepat pukl 17.30 setelah sesi tanya jawab usai. Keberadaan puluhan Masisir dari berbagai kalangan yang menghadiri acara ini diharapkan mampu membawa dan menyebarkan kabar seirama tentang MABA. Terlebih berkenaan dengan fakta bahwa masalah yang sudah kesekian kalinya terjadi ini muncul karena perpecahan politik para penguasa, baik dari Indonesia maupun Mesir sendiri.
Template by - Abdul Munir - 2008